tempus fugit…

as an age of progress

  • sitemeter

    • Site Meter

tentang sesuatu yang lebih baik dari hidup

Posted by pewariswaktu on July 1, 2009

Saya pernah percaya, bahwa di dunia ini, bukan hanya ada satu orang untuk satu orang yang lain; melainkan juga, satu karya seni yang diperuntukkan atau berbicara secara khusus dan tepat kepada satu orang saja. Satu untuk satu. Ekslusif ? memang. Sebab sebagaimana mimpi, rasa juga senantiasa sureal. meta bahasa.

Akhirakhir ini saya kembali berhadapan dengan harapanharapan semacam itu. Dan sedihnya, melihat bagaimana harapanharapan itu berguguran satu demi satu. Bagaimana obsesi membuat karya dan mendedikasikan seluruh hidup kepada karya itu, untuk kemudian diserahkan di atas pinggan perak kepada satusatunya alasan karya itu ada di dunia ini; menjadi kesedihan dan lelucon yang tetap sedih hingga mata berair. Bagaimana keinginan untuk mempunyai anak, atau membesarkan anak sesuai dengan impian menjadi sekat yang menyenangkan diantara agenda rapat dan kemarahankemarahan harian.

Yang terlihat jelas dimata saya, adalah bagaimana disaat yang sama, kita merasa sangat mencintai sekaligus menghindari imaji kita akan diri sendiri. Dalam hal membuat karya, jika harus menoleh ke belakang; saya selalu kagum dengan potret saya yang kelebihan energi mengimpikan ini dan menabung itu; menyicil kerjaan ini dan meluangkan waktu untuk itu; mencari dan menguji yang terbaik dari diri saya, untuk dipersembahkan dan memastikan bahwa semua itu termanisfestasikan dengan sempurna dalam karya itu. Sekarang, dalam jangka waktu yang jauh dan memori yang telah kering, saya bisa melihat betapa keras saya berusaha untuk melihat sisi terbaik di dalam diri saya terbingkai disana. Sesuatu yang bisa saya persembahkan kepada satu orang. Hanya satu orang. Benarkah karya itu untuk orang lain?

claustrophobiaDalam topik anak, saya melihatnya seperti sisi keping uang yang berbeda. Mungkin, ini adalah topik paling sedih dalam sejarah manusia. Dimata saya, anak adalah monumen frustrasi yang mewujud dalam daging, pola, citacita bahkan, jiwa. Setengah bercanda setengah serius, saya berkata pada seorang teman: kalau saja masa hamil itu lebih singkat dan tidak mengundang badai hormon, saya mau aja sih jadi pabrik anak! Untuk mereka yang ogah atau sudah gak bisa hamil karena umur atau karir; untuk pasangan homo; untuk penderita kesepian dan kebosanan akut…  Jika saja itu semua bisa membuktikan, bahwa genetika hanya sekian persen jika berhadapan dengan semua bentukan dan hasrat untuk membentuk. Menjadikan sesuatu lebih baik dari pada seharusnya.

Maaf jika ada sarkasme yang keras didalam kalimatkalimat saya.  Buat saya, memang demikian lah kenyataannya. Sarkas, tapi bukan peyoratif. Dan saya sungguh berniat melakukan itu, jika semua syarat tadi terlewati. Pada kenyataannya, saya hidup dan akrab dengan kategorikategori orang seperti yang saya paparkan itu.

Saya pernah percaya, sebagaimana semua anak perempuan yang mengenal kisahkisah dari pabrik disney, bahwa ada satu orang diluar sana yang tersedia khusus untuk saya. Saya tidak tahu, apalagi yang bisa saya percayai sekarang atau besok. Yang saya lihat, sayalah yang tetap setia dan tersedia, untuk diri saya.

Posted in de plus en plus | Leave a Comment »

tentang memakai kursi bernomor dan kisahkisah antar generasi

Posted by pewariswaktu on June 20, 2009

Ruang hati saya seumpama ruang menonton di sebuah gedung bioskop. Perkenalan dengan setiap orang adalah seperti memberikan satu karcis dengan nomor tempat duduk yang spesifik di dalam  studio tersebut. Jika ada yang akhirnya pergi dari hidup saya, maka “kursi bernomornya” juga akan tinggal kosong. Demikianlah saya membayangkan. Di akhir film hidup saya kelak, bukan menjadi soal apakah ruangan itu separuh terisi atau separuh kosong. Yang jelas tinggal, adalah setiap kursi bernomor dengakursimu, nomor berapa?bercerita apa?n masingmasing kisahnya.

Ceritacerita yang akhirakhir ini saya dengar datang dari temanteman yang usianya lebih muda dari saya. Ceritacerita yang sedemikian rupa membuat saya menghargai generasi ini. Generasi yang tampak tanpa urgensi, kata salah satu dari mereka;  juga generasi yang terlampau banyak disetir oleh segala hal yang bersifat “baik, harus dan wajib”. Yang  baik adalah ilmu pasti, karena lakilaki harus menjadi pemimpin dan wajib menafkahi keluarganya. Tidak ada yang berbeda dengan apa yang saya dan generasi saya dengar dari generasi di atas kami, tapi penerimaan terhadapnya jelas bertolak belakang.

Generasi saya adalah sekelompok individu yang merasa selalu terdesak untuk berbuat sesuatu. Menjadi sesuatu. Kami tumbuh dalam kutub kutub yang senantiasa bipolar. Saya bercerita kepada mereka, bagaimana kebanyakan teman kampus saya yang lakilaki dulu, memilih masuk fakultas sastra karena tidak ada matematika. Karena merasa tidak bisa dikungkung, tapi juga bukan seniman yang serampangan. Sastra adalah jalan tengah. Kamu bukan seniman yang dituntut punya karya dulu baru bisa menyandang gelar; juga bukan kaum yang harus berseragam dulu baru bisa mendapat tegur sapa. Romantik? Sebaliknya, memuakkan. Kami benarbenar generasi negasi, menidak pada segala formalisme. Marxis baru, Musik parodi, Cultural Studies, Seni Kontemporer, Teater Eksperimental, Pendidikan Populer (slap at my face!) blablabla

Ceritacerita yang saya dengar hari ini adalah cerita tentang bagaimana generasi mereka bermain petak umpet dengan garis waktu linear “baik, harus, dan wajib” dan kesenangankesenangan kecil yang bisa mereka buat diselaselanya. Ada yang menekuni sejarah perang dunia II, belajar bahasa asing sampai mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan film ketika kesempatan jatuh padanya. Halhal yang dulunya sangat sulit saya pahami. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan sesuatu dengan sangat baik dan lumayan mendalam, tapi saling lepas satu dengan yang lain. Logika mengisi waktu tidak pernah ada dalam kepala saya. Buat saya, dan kebanyakan orang di generasi saya, segala hal yang dilakukan adalah pemenuhan diri atas diri. Diri atas pandangan orang lain.

Saya merasa picik dan menyesal atas segala penilaian yang pernah saya jatuhkan kepada mereka. Di mata saya, mereka menjadi ikon generasi sedih yang tidak mau ambil pusing dengan kesedihannya. Saya juga merasa sangat rendah ketika mengingat upaya saya sore itu untuk terdengar tetap bijak di hadapan temanteman saya yang lebih muda.

Malam ini saya berusaha memperbaiki kesalahankesalahan itu dengan mengirim pesan singkat kepada dua teman yang berbagi cerita kepada saya. Pesan pertama adalah:

Tujuan jangka panjang dalam bahasamu tadi, rasanya aku juga masih mencari. Karena aku tak percaya pada pandangan umum tentang yang harus dan yang wajib. Harus mapan, harus kawin, blablabla

Sampai kapan nyari? Gak tau. Seumur hidup pun tak apa. Karena dalam mencari, rasanya tidak akan terlalu kosong kan?

pesan kedua lebih kepada respon atas mekanisme pertahanan diri yang dibangun seorang teman ini terhadap masalahmasalah yang menimpanya. Ia direduksi sedemikian menjadi narasi. Lebih jauh lagi, lelucon. Saya hanya manggutmanggut karena diamdiam saya pun menjalankan mekanisme yang kurang lebih serupa. Walau terasa tidak manjur, tetap saja saya lakukan. Saya juga tidak tahu cara lain, sebenarnya. Tapi malam ini,rasanya  saya  jadi tahu, apa yang membuatnya tidak manjur seratus persen. Maka saya pun mengirim pesan singkat kedua, kepada teman yang ini:

Dans une grande rigolade, il y a agonie qui s’est reste.

Posted in de plus en plus | 1 Comment »

june 16th

Posted by pewariswaktu on June 16, 2009

Seseorang mencolek saya di pinggir panggung rock klasik untuk meminjam korek, dan mengembalikannya dengan senyum dan mulut yang membentuk ucapan “thanx”.

Saya melambai memberi gestur “you’re welcome” dan membantin “manis eh! Kok gak pernah liat ya di jogja?!”

Tak sampai setengah lagu, si peminjam korek mencolek saya :

you speak english?”

fluently

“what do you think of the band?”

“i’m not thinking, i’m watching! The boys are my neighbours! It’s my social obligation”

Kami tertawa dan saya langsung tahu ini akan jadi percakapan panjang. Saat dia tampak bosan dan mimik muka saya sudah tak bisa diatur lagi untuk memberi semangat pada teman-teman saya yang di panggung, saya menawarkannya untuk pergi dari sana.

Kami melanjutkan malam itu di warung kopi saya dengan terus bertukar kisah. Sebanyak yang bisa kami kisahkan dalam semalam. Sebanyak kesamaan yang kami temukan.

sebanyak kisah yang terus menghantui saya bahkan ketika setahun sudah berlalu.

Posted in rechercherait du temps perdu | Leave a Comment »

tentang ditolak dan tertolak

Posted by pewariswaktu on June 4, 2009

Rasanya, kemarin saya diajarkan beda yang mendasar antara ditolak dan tertolak.

Ditolak,  adalah pernyataan negatif atas hal yang diajukan. Tertolak,  adalah penolakkan menyeluruh atas eksistensi.

Kemarin, saya merasa tertolak dengan telak.

Dan yang tersisa tinggalah, agoni.

and when is the next lesson?  tomorrow.  (the piano-1993)

Posted in anomie, rechercherait du temps perdu | 1 Comment »

In my dad’s old strip pajama, I slept peacefully and give thanks.

Posted by pewariswaktu on May 27, 2009

Kemarin, huruhuruf ini sudah berada di ujung jari saya, hendak menuliskan kalimat ini:

Saya sudah berhenti mengucap syukur.

Kemarin, menjelang malam, saya dihujani halhal yang sudah lama tidak pernah saya harapkan lagi.

07.00 pm

Seorang sahabat yang meninggalkan rumah bersama yang kami bangun karena tanggung jawab barunya sebagai kepala keluarga –kejadian yang membuat saya tobat membangun apapun dengan lakilaki hetero penganut  paham lakilaki sebagai sole provider-  menelpon dan bertanya kabar saya. Dia hanya tinggal di ujung lain kota ini, tapi semesta membuat kami jarang bertemu. Dan sejujurnya, saya pun tidak lagi memiliki dorongan untuk bertemu dengan lingkaran kehidupan saya yang lama.  Benteng pertahanan saya sekarang berwujud lingkaranlingkaran sosial. Circle of influence, circle of concern dan diluar keduanya, circle of I don’t give a fuck about.

Sahabat saya ini menanyakan kondisi kesehatan saya, teringat betul bagaimana musim yang tak menentu pasti berpengaruh pada saya. Dia menyusul percakapan telepon malam itu dengan pesan singkat:

aku kangen ngobrol karo kowe meneh….

O7.30 pm

Sahabat masa kecil yang mengijinkan saya masuk dalam kehidupannya sekarang, meminjamkan rasa yang asing kepada saya tentang memiliki keluarga; mengundang saya mampir untuk merayakan ulang tahun anak keduanya dengan makan malam tujuh lauk asli Indonesia masakannya. Bersama dia, saya seperti mengalami campuran harihari dalam segala masa. Menengok masa lalu kami bersama dan berupaya memahami pelajaran dibaliknya sebagai marka perjalanan di masa sekarang. Merangkai masa depan dengan dagu terangkat dan hati yang selalu diingatkan untuk tetap merendah. Beberapa hari yang lalu, saat saya menerapkan metode salad bowl agar bisa bertemu dengan semua temanteman yang terkumpul di kota saya karena akhir pecan yang panjang, seorang teman berkomentar saat saya mengenalkan profil sahabat saya ini:

how can one still be friend since kinder garden?

Saat itu, saya hanya tersenyum bangga.   Saya ingin memberi teman itu jawaban yang lebih pasti jika kami bertemu lagi suatu hari :

no one knows that it can be possible. For our case, we just never throw out the keys. Maybe by that, things always be  possible.

Semalam, saya batal merayakan ulang tahun si kecil yang pertama dan batal mengisi perut saya dengan tujuh lauk khas Indonesia masakan teman saya. Badan saya tak bisa berkompromi. Sahabat saya mengerti, dan lebih dari mengerti ia membalas pesan singkat saya:

besok sepulang (jemput) sekolah, mau kutengok?

my dad's old pajama definetely better than thisSaat itu juga, dalam balutan piyama bergaris milik the papi, saya merasa badan saya membaik.

Semalam, ditemani enzoenzo saya tidur dengan mudah tanpa bantuan apapun. Katakata sahabat serumah saya menggantung jelas dalam ingatan:

Dashyat nya ya perasaan dikangenin itu…

Semalam, menjelang kesadaran saya lepas, saya mencamkan satu hal untuk diri saya:

Saya sudah berhenti bersyukur. Tapi saya harus berterimakasih untuk orangorang yang telah menyayangi saya, nyaris tanpa syarat.

Thus, my life is worth a living.

Posted in de plus en plus, la vie en rose | Leave a Comment »

one’s root problem is, memory

Posted by pewariswaktu on May 26, 2009

People say, when you can’t have what you want the best you can do is not to forget : ashes of time

Posted in anomie | Leave a Comment »

we are that lucky, pap!

Posted by pewariswaktu on May 15, 2009

Lucy: Daddy, did God made for you to be like this or was it an accident?
Sam: Ok, what do you mean?
Lucy: I mean you’re different.
Sam: But what do you mean?
Lucy: You’re not like other daddies.
Sam: I’m sorry. I’m sorry. Yeah, I’m sorry.
Lucy: It’s ok, daddy. It’s ok. Don’t be sorry. I’m lucky. Nobody else’s daddy ever comes to the park.
Sam: Yeah! Yeah! Yeah, we are lucky. Aren’t we lucky? Yeah!

(i am sam)

andai saya bisa berkata seperti itu kepada papi. andai papi bisa mengakui bahwa ada halhal yang tidak mungkin terjadi diluar ikatan yang kami jalin berdua.

i’m lucky. nobody else’s daddy provide things that i gained now.

it’s all you.it’s all you, pap!

Posted in la vie en rose | Leave a Comment »

on suicide

Posted by pewariswaktu on May 9, 2009

Dalam serial kegemaran saya sekarang, Lie To Me, tokoh Cal bicara tentang penyebab utama, dan yang paling umum, dari tindakan bunuh diri. Agoni.  Bukan sebuah isu baru bagi Cal. Kenyataannya, peristiwa bunuh diri ibunya, adalah hal yang memicu dia untuk menjadi dia yang sekarang. Penemu dan peneliti micro expression. Cerita kemudian berpusar pada bagaimana Cal dan lukanya yang belum selesai, terus menerus mendorong lingkungan sekitarnya untuk menerima atau setidaknya, beradaptasi dengan luka yang masih menganga di dalam dirinya itu.

Saya punya isu yang cukup besar tentang tindakan bunuh diri. Salah seorang teman saya melakukannya setelah sebuah proses diskusi yang panjang dengan saya. Jujur, saya merasa, I wish I could do better. Walau disisi lain, saya selalu mendukung tindakan tersebut sebagai keputusan individu yang sifatnya sangat personal. Sejajar dengan mereka yang melepaskan atau berpindah kepercayaan, atau pernikahan atau memilih profesi. Saya lebih bisa menghargai orang yang punya keputusan daripada mereka yang menyibukkan diri menjalani hidup, bukan mengisinya. Those who just getting themselves busy dying. Juga, ada satu masa dalam hidup saya ketika saya merasa bahwa sudah saatnya saya berhenti hidup. Nothing appeals me anymore. Sebuah kondisi yang saya rasakan justru ketika kehidupan saya berjalan dengan sangat lancar. Perasaan itu, however, ternyata hanya melewati saya. Tapi isu tentang tindakan bunuh diri jelas punya jejak yang sangat dalam di diri saya.

Menonton Cal Lightman, yang diperankan dengan sangat baik oleh Tim Roth, saya seperti melihat tumpukan agoni yang dirubah menjadi energy potensial. Potensial menguntungkan, yang sama dengna potensinya untuk merugikan. Bagi Cal dan bagi orangorang disekitarnya. Saya melihat diri saya dalam tokoh Cal. Selama ini, saya pikir, yang saya butuhkan hanyalah terus menjaga semangat saya. Semangat untuk tetap hidup, untuk bergerak maju

Ternyata, untuk bergerak dengan leluasa, saya tetap butuh meninggalkan bebanbeban besar itu dan menanggalkannya dari diri saya.

Jika tidak, mereka bagai timbunan lemak dan penyakit yang bertahun tahun ada namun tak kunjung dihiraukan. Ada saat ketika proses unik itu mencapai masanya; menunjukan hasilnya. Semua menjadi tak tertanggulangi, even worst, tak tertelusuri lagi asal muasalnya.

Tibatiba, ia hadir sebagai hal yang sangat besar dan membunuh saya dengan perasaan yang sama dengan masa lalu, what have I done wrong?

Hanya saja, kali ini ditambahi dengan, against myself

Posted in anomie | Leave a Comment »

ditemukan dalam kondisi yang bagaimana, mungkin itu pertanyaan selanjutnya.

Posted by pewariswaktu on April 27, 2009

siang ini, seorang teman saya yang akan menikah dalam waktu dua minggu lagi, mengunjungi saya di rumah baru saya. Dia sudah ngotot sejak dua atau tiga hari yang lalu, saya pikir, hm…serangan cold feet!

Ternyata tidak. Semuanya baikbaik saja. Kerepotan dan peran sebagai calon pengantin yang benarbenar tahu apa yang mereka mau(dan k arena itu)harus mengurusi semua persiapan pernikahan mereka sendiri, benar ia nikmati. Suasana siang ini saya anggap menjadi semacam sekat dari rutinitas barunya akhirakhir ini. Friends meets, discussing heaven’s and earth. Oh…old days wish you never gone!

Perbincangan kami sampai pada berbagai urusan skype dan facebook. Setengah mengumpat, dia bilang:sialan lu, main kabur aja! Gw kan buka facebook garagara lo juga!

Saya tertawa saja. Setengah bercanda, saya bilang:

Gak nyangka aja orangorang segitu perhatiannya ama gw!  Yang foto lah,  yang komentar lah,… gerah dah! Pantes banget ya dikasih istilah “situs pertemanan”. Semua orang  sebegitu terhubung  dan berusaha menghubungkan diri.

Saya masih berpikir tentang hal ini bahkan ketika teman saya sudah mengakhiri kunjungan minggu siangnya. Bagaimana orangorang membeli blackberry hanya untuk bisa terhubung  terus menerus dengan orang lain. Dengan kisah orang lain. Dengan kehidupan orang lain. Atau bahkan, jika untuk diri sendiri, betapa kita takut pada kesendirian. Seberapa available kah kita untuk kehidupan di luar diri kita, sehingga perlu papan pengumuman real time seperti itu?

Saya menghapus  facebook  saya, salah satu alasan utamanya, harus saya akui, karena saya tidak bisa berhenti mengintip situs serene typhoon dalam hitungan dosis minum obat, 3x sehari. Dia, tidak memamerkan apaapa disana. Sayalah yang  menjadi neurotik. Menganalisis berbagai komentar dan foto yang dilemparkan orangorang ke dalam situsnya.  Mencari tahu jenis relasi dia dan orangorang yang masuk dalam situsnya.  Sesuatu yang membuat saya sendiri kehabisan energi dan muak pada perilaku « kelebihan waktu luang » itu sendiri. Sesuatu yang membawa saya pada kesadaran, bahwa yang saya perlukan dan yang berarti bagi saya adalah berita dari dia. Bukan tentang dia.

Maka berhentilah saya dari kecanduan buku bermuka (banyak) itu.

Suatu bunuh diri jangka pendek tentu saja. Tidak ada jaminan apapun bahwa dia, si tuan badai yang kalem itu, akan merasa kehilangan dan kemudian berusaha mencari saya. Yang ada, hanyalah satu kemungkinan,bagaimana di  suatu saat, dia sadar bahwa saya telah menutup pintu. Dan memberikan kuncinya kepadanya.

Untuk dibuka, atau dibiarkan tertutup selamanya. Dan mudahmudahan, hidup saya bisa terus berjalan.

Untunglah, ada tokoh august rush yang dalam usia 12 tahun bisa dengan nada pasti menjawab pertanyaan tentang  apa yang paling ia inginkan di dunia ini.

mungkin ada masa, mungkin masa itu datang di usia saya yang sekarang menjelang 30 tahun, untuk bertanya kembali: apa sih yang saya mau capai dari dunia?

tidak sebatas urusan pragmatis bertahan hidup, atau citacita utopis masa muda dan lunatik. tidak  sebatas pada mengukir sesuatu diatas sesuatu.

august rush, punya jawaban yang menendang kesadaran saya.

What do you want to be in the world? I mean the whole world. What do you want to be? Close your eyes and think about that.

found

entahlah. saya tidak tahu apakah saya mau membuat diri saya ditemukan, atau menunggu untuk ditemukan.

Posted in de plus en plus | Leave a Comment »

tentang mereka yang sudah bisa bilang: tidak ada waktu

Posted by pewariswaktu on April 20, 2009

“Tante kesepian ya? Tapi Refie lagi gak ada waktu nih…”

Itu respon ponakan saya, ketika saya mengajaknya liburan ke kota saya.

Separuh sedih, separuh kaget, saya menelan ludah. Sedih, karena mungkin, dia ada benarnya juga. Walau mungkin juga itu emosi sesaat, karena hormonhormon melankolis saya bekerja dengan sempurna kala mens.

Saya menelpon mereka sehabis mengajak anjing saya berjalanjalan di lingkungan baru rumah kami. Lingkungan yang lengkap dengan sawah, pohonpohon rindang dan kali yang mengalir dengan suara deras. Lingkungan dengan banyak tempat duduk di sepanjang bantaran kali.

Saya membayangkan, para keponakan saya yang anak kota itu pasti akan senang jika mendapati lingkungan seperti ini.

Kaget, karena saya tidak merasa itu adalah respon yang umum dari ponakan yang diajak liburan ke tempat tantenya.

Tapi mereka tidak salah. Saya memang jarang menyapa mereka. Mungkin, mereka telah jauh lebih advance dari saya dalam mengelola emosinya. Memutuskan untuk berhenti “mencintai dengan dalam” sejak dini. Saya bukan tante teladan. Saya layak mendapatkan respon itu.

“eh tante, entar dulu, Rani mo nanya nih!”

kata Refie, keponakan saya yang paling besar dan memberikan telpon kepada Rani, adiknya.

“tante, Anoa itu binatang sejenis apa sih?”

Saya menjelaskan, dan ditutup pertanyaan :

“ngerjain PR ya, de?”

“iya, hihi… makasih tante”

Saya menyambung:

“sama-sama! Eh…Rani tau gak kalo Anoa itu hewan yang cuma ada di Sulawesi Tengah?”

“gak”

“mungkin kapankapan bisa juga liburan ke palu dan minta opa atau om ecil ngantarin liat Anoa. Iya, kalo Rani dan mas Refie ada waktu, tentunya. Dag….”

Posted in de plus en plus, la vie en rose | Leave a Comment »