“you want to make God laughs? tell Him your plans”

Bella the movie

happy 27th.


Ini kisah teman saya. dia telah menghabiskan sekitar tiga tahun dari hidupnya di depan lima monitor komputer, dengan kantor berpenghuni sekitar 3000 orang. Dengan model pekerjaan seperti itu, he even hardly named 5 of his officemates. Banyak waktu menghasilkan banyak uang sehingga sedikit waktu yang tersisa untuk membuang sedikit uang.

Jadi ? dia berhenti. Begitu saja. Pergi kemanapun. Kadangkadang membuka peta. Lebih sering lagi menghadang loket apapun yang ada didepannya untuk membeli tiket menuju perjalanan selanjutnya. Pergi kemanapun.

Tapi dia juga menghabiskan waktu sedikit lebih lama di negara asalnya. Komentar spontan saya padanya adalah :

Kamu pasti merasa seperti pedagang di cerita Alkemis yang ingin sekali naik haji.

Dia tertawa kecil. Ketika bercerita bagian ini suaranya merendah, matanya melindap. Orang tuanya berimigrasi ke canada, dan dalam rangka melindungi sang anak dari “serangan” rasisme, mereka pun menolak mengajarinya bahasa asali itu. Menurut mereka:

You can’t grow up as an asia kid speaking whatever language with tagalog dialect

Sampai disini, dia tertawa. Katanya:

Bagaimana mungkin! Dengar aja gak pernah! Orang tua saya bahkan memilih untuk berjuang dengan vocab inggris mereka yang terbatas daripada harus bertengkar dalam bahasa tagalog

Saya bertanya padanya, kali ini dengan mimik serius:

Bagaimana rasanya menemukan perjalanan “pulang” setelah kondisi half belonged yang menahun seperti itu?

Jawabnya:

Kamu baru saja membantu saya merumuskan pertanyaan baru! Bagaimana rasanya untuk pertama kalinya hidup tanpa berpikir akar dan muasal? Itu yang sedang saya alami sekarang

Perbincangan kami beralih dari satu hal ke hal lain. dari kisah anakanak yang tumbuh di tahun 80an sampai konser jazz di montreal. juga pada Sartre, dan di titik mana dia gagal meyakinkan kami dan bagaimana Derrida hadir mengisi lubang yang kosong itu.

Kami terus saja bertukar kisah. Sebanyak yang bisa kami kisahkan dalam semalam. Sebanyak kesamaan yang kami temukan.

Saya merindukan dia. Rindu pada kenyataan bahwa menyerah pada langkah kakimu adalah tanggung jawab terbesar yang pernah diambil oleh individu.


Mungkin kuning pucat. Atau hijau tosca.

Bulu anjing yang menua.

Sunkist yang terkurung selama seminggu dalam plastik parcel. Percik api dari kabel yang terkelupas.

Luruh daun selagi di udara. Senyum sobat kecil di sebuah foto lama.

Bening kubangan disapu matahari pagi.

nuansanuasa bening

“a woman’s whole life is a history of the affections”

washington  irving, The Sketch Book


cinema is the cathedral of today!

quotes from someone famous but unfortunately been forgot by me

Sialnya, saya masih berduka. Empat hari yang lalu, lampu ajaib kami padam. Dia benarbenar lampu ajaib. Yang pertama, dia mewujudkan mimpi banyak orang. Yang kedua, dia bisa bertahan sampai mencapai waktu nyaris tiga tahun. Saya, anehnya, hanya bisa terdiam ketika itu terjadi. Beberapa teman panik, beberapa langsung berpikir taktis tentang solusi jangka pendek, menengah dan panjang, beberapa lagi yang merasa tak bisa membantu banyak mengucapkan bela sungkawa. Dan diantara semuanya itu, saya hanya bisa terdiam.

Waktu tiga tahun lampau kembali dengan jelas ke ingatan saya. Bagaimana rangkaian keberuntungan seolah mengikuti langkah kaki saya yang bulat bertekad untuk mewujudkan mimpi itu, sekarang. Harus sekarang! Uang yang paspasan, temanteman yang sama butanya dengan saya, kecintaan yang terlalu lama dipendam; apa lagi yang ditunggu? Lampu ajaib adalah satu dari sekian keajaiban yang menghampiri ketika itu. Toko yang kami datangi baru saja mengakhiri pameran produknya di tempat lain, dan karena baru berselang sehari, kami pun masih bisa mendapatkan harga promosi. Saya masih bisa mengingat jelas, bagaimana kami memerlakukannya seperti bayi prematur. Bagaimana kami semua, berkeringat dan bau cat, berkumpul di garasi tua itu untuk mengetes si lampu ajaib. Film yang saya pilihkan,

Piñero.

Malam ini, saya menengok sebentar ruang besar yang kosong itu. Kursikursi dipindahkan ke luar untuk alasan efisiensi aset. Kami memang butuh banyak sekali uang untuk membuatnya terisi lagi, sebagai bangku penonton. Sepi. Disana dan di hati saya.

Semoga yang lain juga merasakannya. Supaya saya, dan semua temanteman di rumah bersama itu, tetap bersemangat untuk menyalakan kembali si lampu ajaib. Karena untuk itulah kami semua ada.

Malam ini, akhirnya saya bisa menangis juga.

“so please when I die …
don’t take me far away
keep me near by
take my ashes and scatter them thru out
the Lower East Side …”

Miguel Piñero, 1985


pertanyaan awal yang muncul dalam pembicaraan kami, saya dan sahabat dan seorang sahabat yang berkunjung ke kota saya, suatu malam adalah

kamu juga melewati masamasa itu?

pertanyaan itu muncul, karena kami baru saja menyaksikan deretan karyanya dengan kronologis. dan di suatu titik, voila, kami mendapati diri kami melihat dia yang berbeda. pada saat itu, saya dan sahabat saya belum mengenalnya.
obrolan itu kemudian berlanjut pada bagaimana kami masingmasing di usia itu. maka mengalirlah deretan hal yang memengaruhi setiap kami:

sartre. camus. baudelaire.brecht.dostoyevsky.yeats.beauvoir.luxemburg

senangnya melihat diri tidak sendiri.


Dalam percakapan yang intens dengan seorang teman selama beberapa hari, saya tibatiba mengerem mulut saya. Dalam pandangan matanya yang menyimak, saya mampu menangkap gema suara saya yang bicara dengan terlalu banyak

gue sih…. kalo gue…. menurut gue…”.

Rasanya sangat tidak tepat. Dia datang ke kota saya, atas undangan saya, menginap di tempat saya namun mengapa udara tetap harus dijejali dengan pendapatpendapat saya? Seberapa gelisahkah saya sehingga semua yang ada di kepala saya harus dilontarkan dan mendapat audiens? Rasanya malu sekali.

“L’oeil, c’est la force”

Lyotard


“Pilihlah pekerjaan yang engkau suka, maka engkau takkan pernah bekerja sehari pun sepanjang hidupmu”

konfusius

Membaca berita dan kegemasan orangorang tentang ujian nasional, saya langsung terpikir the mami. Bagaimana kirakira dia menyikapi semua ini kalau dia masih menjadi kepala sekolah, walau buat saya dia adalah guru seumur hidup. Saya ingat, bagaimana kami,seisi rumah harus bangun jam lima pagi serentak, dan mengerjakan semua pekerjaan yang sudah dibagi berdasarkan kondisi masingmasing. Tugas pertama saya peroleh di umur enam tahun, begitu masuk kelas satu sd: menyiram halaman! Suatu sore mami pulang membawa ember kecil biru muda, katanya khusus untuk saya. Keesokan paginya, dan pagipagi berikutnya, saya harus mengangkut air dengan ember itu sampai ke halaman dan menyiramnya. Ada saudara sepupu yang bertugas menimbakan air, karena ketika itu, kami belum memiliki pompa air listrik. Di kelas tiga sd, saya mulai berjalan kaki ke sekolah saya, yang tepat bersebelahan dengan sekolah mami. Kami berangkat bersama, tepat jam 6.30 wita; bedanya mami dengan suzuki sedang saya berjalan kaki bersama sepupu saya yang kelas enam sd. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang untuk liburan kuliah, saya mencoba napak tilas rute perjalanan masa SD itu. Sepanjang jalan saya mengutuk dan mengingatingat mengapa dulu saya menerima dengan rela keharusan berjalan kaki itu, keharusan berjalan menempuh 2 x 3.5 km untuk pergi dan pulang sekolah.ketika saya mengajukan complaint itu, the mami menjawab dengan acuh:

karena 3.5 km itu kan sekarang kau bisa berjalan sejauh yang kau mau, termasuk menjauh dari mami!

Kenangan besar saya dalam membentuk tim dengan the mami adalah ketika kelas enam. Ada lomba karya tulis bagi anak kelas lima dan enam, tingkat nasional, dan karena the mami bukan kepala sekolah saya, maka dia pun tidak memaksa saya secara formal untuk mengikuti itu. Dia cukup tahu bahwa natur saya adalah menidak, jadi lebih baik jangan disuruh. Dia hanya meletakkan formulir dan syarat pendaftaran di meja makan, dan bilang:

Asyik tuh, kalo ade cobacoba nulis!

Saya mencoba, bukan karena tetek bengek lomba, tapi karena karangan saya selalu dicekal oleh guru bahasa indonesia saya. Ada dua kejutan yang menunggu saya setelah itu; yang pertama adalah karangan saya terpilih untuk mewakili propinsi dan yang kedua, adalah karangan itu batal dikirim, terkena diskualifikasi karena saya mengerjakannya dengan ketikan komputer. Ketika itu tahun 1993, dan komputer di wicked little town adalah pajangan etalase atau ruang kepala dinas…

Mendengar berita itu dari the mami ketika ia pulang dari sekolah. Saya menangis sebentar dan terhenti karena langsung dibentak:

Trus kalo nangis, beres?

Saya menghapus air mata dan menceritakan semua keberatan saya. The mami memakai lagi sepatunya, meminta saya bersiap untuk menghadap kepala dinas P & K yang mengeluarkan keputusan diskualifikasi itu. Kebetulan kantor P&K memang hanya berada tidak jauh dari tikungan rumah kami. Maka menghadap lah saya. Pak kepala dinas mendengar,mungkin dengan setengah geli, semua argumen saya, sementara the mami berdiri di pintu, tersenyumsenyum sambil merokok, sambil menghalangi dan memberi keterangan pada pegawaipegawai kantor yang mendadak berkumpul. Sebuah bahasa tubuh yang sangat jelas bagi saya, bahasa yang bicara dengan tegas: Biarkan! Ini perangnya. Bahkan saya pun tak mencampuri

Perdebatan dengan pak kepala dinas berlangsung seru. Menurut dia tidak mungkin anak kelas enam sd bisa mengoperasikan komputer. Dan karena itu, jika saya mau tidak didiskualifikasi, saya dipersilahkan menulis ulang karangan itu di depan dia. Argumen saya adalah tidak ada syarat penulisan di formulirnya, yang berarti pakai komputer pun tentu tidak masalah. Saya adalah anak bungsu, dan kakak pertama saya ketika itu sudah mengerjakan skripsinya. Dia menyogok saya dengan games Digger dan Pacman, agar saya mulamula familiar dengan komputer, kemudian meminta saya mengetikkan skripsinya. Saya bilang bersedia mengerjakan ulang tulisan itu dengan mengetiknya kembali di depan pak kepala dinas. Masalah dimulai, karena pak kepala dinas tak punya komputer. Ketika kami ke ruangan atasan pak kepala dinas, masalah juga tidak selesai. Disana memang ada seperangkat komputer yang tidak tersambungkan satu dengan yang lain. Bahkan stavolt pun tak ada! Saya merasa tidak perlu membuktikan apaapa lagi setelah itu. Dalam semua proses itu, the mami menempatkan diri sebagai pagar pemisah antara arena saya dan pak kepala dinas dengan audiens dadakan kami. Arakarakan menuju ruang atasan pak kepala dinas sangat mencuri perhatian seluruh kantor ketika itu.

The mami dan saya pulang dengan langkah ringan, bergandengan tangan dan mampir membeli es krim. Kami berbincang tentang segala hal, kecuali peristiwa siang itu. The mami dan saya samasama mengerti, tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan. Perang sudah selesai. Diselesaikan.

Ketika hardisk saya jebol saat skripsi sudah sampai pada analisa, saya menelpon ke rumah dan menangis tersedusedu. The mami kembali membentak:

Telpon mami kalau sudah selesai menangis! Setelah itu kita pikir solusinya

Saya jawab:

Mi, mami memang penuh solusi. Tapi sekarang saya sedang butuh menangis. Maukah menemani?

Dia diam, dan saya terus menangis sampai akhirnya saya menutup telpon setelah puas. Keesokan harinya, ketika saya menelpon kembali, the mami sudah siap bersama kakak saya yang memberikan beberapa opsi penyelamatan data.

Hari ini, dibalik selimut saya yang bau asap 76, saya membaca koran minggu dengan miris. Judulnya “perang gerilya si umar bakri”. Saya ingat the mami. Dan mengirimkan pesan singkat padanya:

Mam, selamat hari minggu. Sdh baca koran hari ini?klo masih aktif ,mami kira2 ngapain dgn kondisi UN taik kucing ini?

Jawabannya membuat saya tersenyum:

Slamat hari minggu,sdh gereja?mami sdg bantu di program2 kejar paket skrg. Klo mami masih aktif, mami akan menghadap penilik dan minta spy sklh mami tdk usah ikut UN dan penilik itu tdk akan mdapat angka kredit sama sekali utk satu sekolah yg tidak lulus. Anak2 akan mami pindahkan ke sekolah terbuka. Mami sdri yang akan menandatanganinya

Saya kembali membalas:

Memang ada sekolah terbuka di kota kita?

Jawabannya:

Mami yang bikin.

Dia memang tidak pernah pensiun.


04May08

Seminggu bersama the papi seperti telah membayar duapuluhtujuh  tahun  kebersamaan kami. Seringkali, di tengah aktivitas kami yang tidak banyak itu ( wine, rokok, nonton film), saya mendapati diri saya bertanyatanya : sebenarnya saya sedang bersama siapa sih?

Mungkin dia pun demikian, mendapati anak perempuannya telah menjadi compañeros bagi harihari tuanya.

Suatu hari, kami melompat ke taksi dengan dia sebagai kaptennya. Kami akan makan siang, dan dia bilang: hari ini papi yang pilih ya! Saya tidak pernah menyangka siang itu akan jadi siang yang panjang sekali; di jalanan dan terlebih di kepala dia. Dia bercerita, tempat itu adalah tempat dia biasa makan dengan temantemannya ketika gajian besar atau perisitiwa penting, seperti pertunangan. Alarm saya berbunyi nyaring: gajian? tunangan?

“iya…waktu papi masih jadi wartawan pelopor!”

Untung saya bukan kapten Haddock sehingga “sejuta setan badai” tidak perlu menyembur. Tapi demi segala yang hidup, dia, the papi sedang mencari tempat makan dari tempatnya bekerja di masa orde lama!!!!

Seminggu itu juga menjadi masa yang panjang bagi saya untuk bercermin terhadap apa yang dia lakukan selama ini, dan tentu saja apa hasilnya yang terlihat. Ketika dia bercerita tentang hilangnya kepercayaan dia terhadap gerombolan Brutus, saya bertanya lembut:

papi sakit hati?

Tidak! Gak sama sekali. Terlalu datar malah

Ehm, tawar hati?

Ya! Mungkin itu kata yang tepat. Tawar hati

Kami samasama terdiam, dan dia menyodorkan rokok ke arah saya, setelah membakar satu untuk dirinya sendiri.

Tidak ada yang dramatis dalam perpisahan kami kemarin. Saya terburuburu berkemas, sambil tetap mengecek arus imel yang sibuk. The papi, santai menonton film detektif swasta yang menyandera entah siapa entah di mana dengan bahasa spanyol latin dan inggris. Sesekali dia harus menggeser saya karena menghalangi pandangannya. Ketika pamit, dia bertanya:

Gak nunggu filmnya selesai?

Saya ketawa sambil mencela seleranya. Dalam damri menuju bandara, saya menerima sms darinya:

Kan, Charles Bronson!! Adegan penutupnya bahaya lho!

Saya tersenyum dan menyeka sedikit air mata yang nyembul. Cult is in my blood, for sure!

Kalau ada judul yang tepat untuk menggambarkan seminggu kebersamaan kami, saya akan menuliskan: Harold and Maude, another story that comes alike.

Saya benci saatsaat saya harus pulang. Saya benci menyadari bahwa sekali lagi, sayalah yang melangkah ke arah pintu keluar dan dialah yang memeluk saya dalam diam.


mungkin

28Apr08

apa kabarmu setelah terbakar matahari di kotaku?

sungguh singkat

saat itu kita berjumpa

galau rasa mengusik

lewat tatap mata

ku tak tahu mengapa

hati ini jadi gelisah

kamu sibuk bekerja, dan saya sibuk mensyukuri keputusan saya hari itu. saya dan kamu tetap tidak bisa berbuat lebih banyak dari saling melempar senyum.

dapat kau rasa

getar angan kita berdua

tanpa kata

tapi hati tidak berdusta

saya merasa senang, akhirnya bisa membuat keputusan ini. keputusan untuk mempercayai diri saya dalam menilai orang lain.

andaikan kau sadar

sesingkat itu jadi awal

untungnya saya masih percaya, bahwa setiap saat adalah tepat.

mungkin ini cinta: Fariz Roestam Moenaf

Mungkin.


Saya melihat tato paling aneh hari ini, sayangnya bukan dari karakter yang saya sukai.

 

Beberapa hari yang lalu saya melihat proses dan hasil dari tato yang dibuat oleh Jelangkung. Tato itu tidak bicara banyak hal, mungkin pembuatnya iya. Atau mereka yang merasa seru dengan hal itu. Beberapa turis kebudayaan dengan tingkah laku jejeritan tak beda dengan agnes monica atau siapapun dalam usia atau mental  “remaja”. Remaja yang terus menerus tampil di tv sebagai pahlawan baru.

 

Bukan, bukan tato itu yang saya sukai. Siapapun bisa membuat itu, dengan alasan masingmasing, dengan pemanggil arwah masingmasing. Tidak mungkin saya suka tato itu, apalagi dengan melihat video pembuatannya yang dipasang di sebelah foto tato yang baru selesai dibuat. Saya merasa melihat remajaremaja yang hilang di dalam gagasan mereka. Hilang di dalam diri mereka sendiri.

 

 

Tepat disini, saya bisa merasakan kehebatan tato yang paling aneh itu. Tato setitik air mata di sudut dekat kelopak, dari seorang antagonis di film This Is England. Saya tidak begitu memperhatikannya ketika pertama kali menonton itu. Tapi kemudian, terlihat jugalah.

 

 

Ada yang tahu, kenapa seorang ultra nasionalis dengan tampang lebih malas dari debt collector berjaket kulit, ditampilkan memiliki tato setitik air mata di sudut dekat kelopaknya? Jika itu berkaitan dengan sejarah, pastilah bagian yang belum saya baca. Mudahmudahan ada yang bisa memberikan penjelasan non romantik tentang itu. Karena jika tidak, saya hanya bisa menerjemahkannya sebagai air mata yang tertelan. Mungkin dia keluar sebagai air seni karena banyak bir yang melancarkannya.

 

Tolong, beri saya penjelasan yang lebih historis dari ini. Sesuatu yang terdengar lebih penuh dengan ilmu pengetahuan.

 

Adakah? Atau hanya lebih banyak orang lagi yang butuh dipinjami air mata?  

 

 

Lagu penutup film itu, adalah daur ulang yang manis dari clayhill. walau dalam hari biasa, saya lebih memilih the smith. tentang lagu penutup film, saya selalu punya kesan tersendiri. ia seperti merangkum semua rasa yang coba disalurkan oleh film tersebut dalam durasi yang telah lewat. sebagai sebuah rangkuman, ia jauh dari kesimpulan. sehingga kesan terakhir tetap berada pada maingmasing penonton, sebuah pintu terbuka menuju hidup yang sama sekali berbeda setelah menyaksikannya

 

Good times for a change
See, the luck I’ve had can make a good man turn bad
 

So please, please, please
let me, let me, let me
let me
get what I want
          this time
           
                                         
 Haven’t had a dream in a long time
     See, the life I’ve had can make a good man bad

So for once in my life
let me get what I want
Lord knows, it would be the first time
Lord knows, it would be the first time…

 

 

                                                                              :

                                               Please,Please,Please Let Me Get What I Want

                                                                   words by morrissey