2010, starts.
as you are the best thing happen to me this year,
i’d like to thank you for letting this happen, and i’d love to thank you twice if you will to put hopes in this whatever kind relationship we start now.
i want to ended up loving you, not only needing you.
then you reply:
a new day ahead? high five!
me:
along with you as one package?
you:
[nodding] [smiling]
me:
high five!
happy new year folks.
Filed under: de plus en plus | Leave a Comment
apa yang salah dengan membangun sarang?
pertanyaan itu yang hadir di kepala saya pagi ini ketika bangun. seharian kemarin, ada kegelisahan yang lain ketika melihat virgoest begitu semangat menata tempat tinggal kami. ehm, saya nebeng di tempat dia. tidak, dia menawarkan saya untuk berbagi tempat tinggal di kota dia, tempat saya memutuskan untuk bersarang selama setahun ke depan.
jadi pendeknya, demikianlah. semalam saya harus mengakui terserang penyakit khas nabinabi modern, the prophet of urban and alienation : bahwa kenyamanan yang bersandar pada sesuatu hal di luar diri kita adalah semu.
tapi pagi ini, saya bangun dengan perasaan lebih lega. tentu terbantu banyak setelah percakapan dengan lady cancer pasangan duet saya. juga episodeepisode pillow talk bersama the virgoest tentunya. tentang pengalamanpengalaman fatalis kami masingmasing, dan bagaimana kami bergerak ke dua arah yang berbeda, dia konstruktif dan saya sebaliknya, destruktif. saya rasa, untuk urusan ini, tidak ada lagi urusan virgo dan cancer diantara kami. kami hanya sedang berlaku wajar, sebagai anak kandung jaman ini. kemarahankemarahan yang jamak, ekspresi yang tak unik, keputusankeputusan serampangan : saya tidak tahu sampai kapan semua itu berlangsung, tapi setidaknya, jika dorongan untuk membuat sarang telah datang bisa jadi ia juga indikator bahwa kita sedang mencoba bertumbuh, berdamai dengan diri sendiri untuk kemudian melenggang meninggalkan jaman.
dalam kasus ini, saya seharusnya senang. hadir di waktu yang tepat dalam fase kehidupannya dalam sebuah ajakan untuk bergenggaman.
jika pun bukan untuk saya sarang itu, paling tidak saya bisa menjadi saksi dari sebuah perubahan yang konstruktif. terima kasih, virgo.
juga untuk menonton kembali 24 hours party people, yang memberi arti baru terhadap distingsi fatalisme dan alter ego
Filed under: de plus en plus | Leave a Comment
Saya tergoda untuk membaca (lagi) tulisantulisan tentang karya Pialat, setelah semalam menonton L’amour existe (lagi).
Dalam tulisantulisan awal, jelas sekali bagaimana ia senantiasa dikaitkan dengan Truffaut, dan kecintaan mereka terhadap masa kecil yang (dianggap) sebagai periode formatif (yang hilang).
Bodohnya saya!
Ini tentu saja alasan yang baik bagi saya untuk menjawab kenapa saya lebih mencintai Truffaut ketimbang Godard.
c’est pas la style, mon ami, qui me fait tomber amoreaux. l’histoire, c’est toujours LE histoire luimeme.
Filed under: de plus en plus, fountaine of thought:cinema | Leave a Comment
kemarin, saya bersama salah satu sahabat F9, virgoest dan bapak kos secara impulsif memutuskan untuk ke Ciwidey, sebuah lokasi permandian air panas di selatan bandung. sebuah cara yang saya yakin kemungkinannya tidak banyak untuk terjadi kembali, dalam merayakan natal. setidaknya bagi saya. buat ketiga teman saya, tentu saja ini libur dari rutinitas mereka masingmasing.
ketika pertama kali menyeburkan diri, sambil tetap cerewet complaining, saya pun teringat akan sebuah khotbah di malam natal ketika saya masih berusia 12 tahun, kelas satu smp. dengan rambut panjang dikelabang dan kostum gereja yang pantas karena harus melayani sebagai vocal group di gereja tersebut.
khotbah itu kembali kepada saya karena kesamaan situasi yang saya hadapi dengan para kodok itu, beradaptasi di air yang sedang mendidih. katakata si virgoest benarbenar menjadi segel bagi peristiwa itu:
gw bisa ngerti rasanya ayam yang direndam untuk dicabutin bulubulunya
saya ingat, ketika itu dia adalah pendeta ambon karismatik yang berapiapi (tentu saja! ambon+karismatik+berapiapi adalah languange redundancy) dan terkenal. gereja kami penuh. pak karismatik membuka khotbahnya dengan teori kodok. alkisah, ketika remaja, dia gemar ikut dengan geng kakaknya menangkap kodok. ketika mereka mencoba
memasaknya, mereka memasukkan kodok itu ke dalam dandang yang berisi air mendidih. tentu saja para kodok kembali daya juangnya, melompat dan batallah pesta yang mereka idamkan.
di kemudian hari, mereka mencoba metode lain. pasukan kodok dimasukkan ke dalam dandang air dingin, kemudian menaruhnya di atas tungku dengan tutup yang terpasang dengan seksama. pasukan kodok merasa nyaman di dalam dandang, menyesuaikan diri dengan suhu yang terus menerus naik, dan setelah itu… kita tahu.
pak pendeta merangkaikan kisah nostalgiknya dengan logika dosa. bagaimana kita beradaptasi dengan halhal kecil yang pada akhirnya membawa kita menuju kehancuran. bukan soal lagi, apakah tutup dandang terbuka atau tertutup, selama para kodok (atau kita?) yang berada di dalamnya merasa aman dan terlindungi.
saya menarik napas panjang di dalam kolam ciwidey, ketika ingatan ini kembali. mengenali betapa pola adaptif ini sering saya temui dalam kehidupan saya dan orangorang di sekitar saya. tentang beradaptasi terhadap halhal yang tampak tak sepantasnya terjadi, tapi masih berada dalam batas toleransi.
di penghujung hari, kita tahu, toleransi kitalah yang lenyap. berganti dengan keterlanjuran.
selamat natal!
When you start to tolerate something, you will end tolerate anything.
—Situationist International
Filed under: de plus en plus, le grand voyage | Leave a Comment
tentang bahagia yang elusif
Ini berasal dari percakapan saya via teks singkat. Tentang control freak. Tentang takut untuk sakit
Pagi ini, setelah malam bercinta yang panjang dan sangat menyenangkan ditambah sesi singkat di pagi hari, kami tertawatawa lagi bersama. Saya bilang :
Ini menyenangkan
Iya, jawabnya, nyaman
Kami tertawa dan bercumbu lagi. Menyenangkan sekali rasanya. Dan akhirnya saya pun bilang padanya:
Rasanya seperti udah lama melakukan ini
Iya euy, sama, nyaman banget
Sepagi itu di ranjang kami, saya mendengar dia dua kali mengucapkan kata “nyaman”.
Hari ini sahabat serumah saya juga mengabarkan ketakutannya atas kenyamanan yang sudah dia raih dengan susah payah. Kenyamanan yang membuat saya seringkali menatap dia dengan melompong dan mengagumi segala hal yang dia usahakan atas kebahagiaannya. Happy, as the act of will.
Secara serampangan, di percakapan online singkat, saya menjawabnya : control freak.
Ketika malam ini dia mengungkit itu kembali, saya pun bercerita:
Tadi pagi kekasih baru saya itu juga bicara hal ini. Tanggapan saya dalam hati adalah : takut sakit lagi kali.
Buat saya, saya mau bahagia. Dan karenanya saya berani sakit lagi. Failed better, if necessary.
Sahabat serumah saya menjawab:
Aku tidak punya cukup keberanian untuk itu.
Saya menjawabnya lagi:
Tergantung seberapa mau kamu akan kebahagiaan itu
Obrolan kami berhenti disana. Saya tahu, kebahagiaan itu elusif adanya. Karenanya, yang perlu dijaga adalah semangat untuk menghargai kebahagiaan. Semangat untuk mewujudkannya dalam segala hal yang mungkin kita usahakan.
Saya mau menjadi orang yang bahagia. Walau saya melakukannya dengan cara saya.
If you’re sad, and like beer, I’m your lady:
Saddest music in the world
Untuk kekasih virgo saya dan sahabat serumah yang selalu menjadi matahari bagi saya, sejak entah.
Filed under: de plus en plus | Leave a Comment
post mortem (1)
saya teringat betapa saya (dan temanteman saya)pernah sangat tergilagila dengan ideologi post mortem. atau sesuatu yang dicapai justru sesudah si pengkarya berpulang. bagaimana karyakarya itu bicara lebih kencang dengan konteks sosial dan konflik dalam dirinya dan terlepas dari diri si pengkarya. terlepas? ternyata tidak. karena jika iya, tak mungkin ia menciptakan trend “27 club”.
sekian anak muda pernah bercitacita untuk mengejawantahkan larik ikonik dari chairil anwar yang juga ikonik, “sekali berarti sudah itu mati”. dan ketika usia itu lewat, seolah kami (paling tidak saya) merasa memasuki tahap kehidupan yang baru. seperti tidak punya kesempatan lagi untuk melakukan apaapa, atau paling apes jadinya; merasa tidak punya kewajiban untuk membuktikan kepada dunia di luar diri bahwa ada sesuatu dari dirinya yang bisa dikembangkan dan berguna. pendeknya, berhenti beraktualisasi. selamat datang masa pragmatisme.
tapi menjadi pragmatis saja ternyata tak pernah cukup. paling tidak begitu yang saya dengar dari banyak orang. sahabat kecil saya yang kebahagiaannya sempurna bersama dua gadis kecil dan suami yang mencintainya, tibatiba pernah membunyikan alarm ingin sekolah lagi. lihatlah, betapa menjadi manusia itu bukan semata urusan berfungsi. tapi mempertahankan gairah hidup.
untuk topik yang satu ini, saya sama sekali bukan ahlinya. akhirakhir ini saya bahkan tak lagi berani menyetir jarak jauh sendirian. saya sering melamun dan memikirkan berbagai kemungkinan kecelakaan antara saya dan kendaraan di depan saya.
surat yang saya terima hari ini dari rama gb, sungguh sungguh membuat saya terdiam beberapa saat. dia menaruh harapan yang besar sekali pada saya dan temanteman yang : semangatnya gampang melempem, matanya gampang basah, dan tulang punggung dengan hubungan rindu-dendam dengan segala minyak gosok dan balsem.
mungkin setiap kita memang perlu mengalami mati itu, berkalikali, dan menggali kebutuhan kita untuk hidup kembali, sepanjang pengalaman mati itu kembali. melihat episodeepisode ketika kita menentukan pilihan di titik mana membuang semua kewajiban orang dewasa dan mahluk sosial untuk bersenangsenang dengan diri yang mulai asing; di titik mana bisa dengan sadar memanggul salib siapapun, menutup mulut yang usil untuk mempersoalkan segala keremehan, dan mencoba membuat arti. bagi aktivitas itu sendiri, bagi diri yang ini, sendiri.
sudah itu, tak berarti lagi urusan mati dan hidup ini. mungkin demikian
Filed under: de plus en plus, le grand voyage | Leave a Comment
gens m’a dissent que..
Somewhere in the back of your mind, a stern disciplinarian is watching your every move. This forbidding figure speaks in the voice of your deepest doubt, your greatest fear or your own propensity to criticise yourself. If another human being were to be as harsh or judgemental, you’d be outraged. And rightly so. How dare they give you such a hard time? Well… how dare you be so mean to yourself? Aren’t you entitled to feel more faith, more hope and more enthusiasm about your own future? Of course you are. The odd thing is, as soon as you overcome a dark doubt, the next few weeks will fill with real light and joy.
cainer
kamu tuh jarang senang, kalo pas bisa, dinikmatin sebisabisamu. senangsenang aja tokh umurnya pasti lebih pendek dari susah.
paman
Filed under: de plus en plus | Leave a Comment
titik
apalagi yang bisa saya percaya, selain bahwa manusia pada dasarnya baik; dan keadaan adalah alasan yang mendorong ketidakbaikan untuk muncul keluar dari dirinya. bahwa tidak pernah ada yang bermaksud menyakiti, yang ada adalah upaya mempertahankan diri. bahwa…
Filed under: anomie | Leave a Comment
a repost that echoing my pain
I like you to be still because it is as though you are absent,
and you hear me from the distance, and my voice does not touch you.
It seems as though your eyes had flown away
and as if a kiss had sealed your mouth.
As all things are filled with my soul
you emerge from the things, filled with that soul of mine.
Dream butterfly, you resemble my soul,
and you resemble the word melancholy.
I like you to be still because you are like distant.
And it is as though you are lamenting, cooing butterfly.
And you hear me from the distance, and my voice does not reach you:
let me come to be still in that silence of yours.
Let me also talk to you with your silence
bright as a lamp, simple as a ring
You are like the night, quiet and constellated
Your silence is that of a star, so remote and simple
I like you to be still because it is as though you are absent
Distant and painful, as if you had died
One word then, one smile are enough
And I’m happy, happy that it’s not true
~ neruda ~
Filed under: de plus en plus | Leave a Comment
Dear perry the lolo,
I think either it’s still your signal problem or it’s my phone that encounter some trouble for sending text abroad, which often happen lately, means I have problem in contacting you. I hope you don’t mind that I’ve asked ami for your email address. We communicate through facebook, how posh si ami lang! haha
Big thanx for introducing me with her. Despites your point about her that sparks clearly, about living in the past and in people’s memories, I also learnt lot of things from her life, story and experiences.
She was having a lot of fun on me the last day, since I told her that I’m thinking about you after the taxi drama (that I created, yes, sorry and shameful for that). She laughed and said maybe you like me. I replied, maybe I like him, because it’s me who is not stop thinking about that. And then we laughed. Then she taught me about the word “tampo”. What a word, what a day.
I’m cursing this year so much for its persistence of giving so much troubles for me, but also loved it in simultaneous way since that is the situation which truly lead to visit the phils and then found oasis there among you, people I met there. Hope that I deserve a visit too, here in my corner of the world
Filed under: le grand voyage, you've got a mail, i've got no reply | Leave a Comment
Recent Entries
- 2010, starts.
- tentang membangun sarang dan ketakutanketakutan yang membayanginya
- Entre “l’amour existe” et “l’enfance-nue” : ma vie selon Pialat
- teori kodok yang menggema di ciwidey
- tentang bahagia yang elusif
- post mortem (1)
- gens m’a dissent que..
- titik
- a repost that echoing my pain
- deuxieme episode (de tampo et les pinoys)
- mon ami m’a dit que…
Categories
- anomie (49)
- de plus en plus (68)
- fountaine of thought:cinema (11)
- la vie en rose (25)
- le grand voyage (14)
- rechercherait du temps perdu (20)
- you've got a mail, i've got no reply (5)
Archives
- January 2010
- December 2009
- November 2009
- October 2009
- September 2009
- August 2009
- July 2009
- June 2009
- May 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- August 2008
- July 2008
- June 2008
- May 2008
- April 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- April 2007
- March 2007
- February 2007




