I stopped loving my father a long time ago. What remained was the slavery to a pattern.

terima kasih, anais.


saya rasa hari itu, sayalah orang yang paling kaya di manila. melebihi mereka yang kebanyakan minum di semua gala premier festival ini, ataupun yang dilamar untuk masuk ke festival berikutnya.

hari itu sudah ajaib karena dimulai dari minum kopi saya bersama ami, seorang oma kenes kelahiran 1954, lajang, pernah mengelola cafe yang menjadi tempat ngumpul seniman dan pekerja film, meminjamkan apartemennya ke teman dan pindah kembali ke rumah ibunya agar mereka berdua bisa saling merawat. perbicangan dengan ami berujung pada dia memberikan saya hadiah, magic stone. sebuah batu yang dihiasinya sendiri dengan glitter, bunga kering dan foto Jose Rizal, pahlawan kesusatraan Filipina. pengisi waktu luangnya.

ada telpon dari mark, teman dari festival musim lalu. dia hanya bertanya, apakah kamu ada di Market!Market! ? aku di Serendra. kesini yuk.

saya mengiyakan dan melepas ami untuk mengejar film berikutnya. Aktivitas ami sekarang adalah menonton film.

tidak ada yang aneh dengan permintaan ke Serendra. Saya dan Mark selalu minum white russian dan double johnny on the rock disana. tapi waktu melihat kostumnya yang ajaib, celana pendek cargo dan topi dan kaos oblong, dan satu orang macho nan rapi disebelah Mark, saya langsung mengendus ada yang tak beres. benar. Mark putus asa dan memutuskan untuk meminta saya main di satu scene di filmnya. peran saya, perempuan yang diperkosa. fuih, can’t complaint!

petualangan dimulai.mengepas kostum mbak kantoran, pelurusan rambut dan make up. semua kapster di salon lantai bawah mall ayala itu berusaha menarik perhatian saya dengan bahasa inggris yang dibuat tidak terdengar taglish karena tahu make over saya untuk main film. Mark senyum selama tiga jam, katanya : kalau saja mereka tahu apa peranmu, pasti mereka merasa tidak perlu bersaing hahaha

kami mengelilingi kota manila ke arah selatan dan barat daya, mencari daerah yang kumuh, tapi dengan lampu jalan yang memadai. beberapa kali take di dalam van, tak ada masalah. kami akhirnya melakukannya di ruasruas jalan kecil di kompleks Mall SM. pada pengambilan gambar terakhir, tibatiba Mark bilang,

cut ada polisi datang.

dan pecahlah tawa kami bertiga. lebih kaget lagi, ternyata para petugas keamanan SM sudah mengintip di kaca mobil van itu. sambil tertawatawa dan setengah telanjang, kami membuka pintu van untuk menunjukan kamera dan memberi keterangan bahwa kami hanya sedang buat film. kesalahan partner saya menyerahkan simnya, membuat kami menghabiskan waktu hampir 2 jam di kantor polisi pasay. saat kami masuk kantor itu pertama kali, saya langsung mencium bahwa urusan akan segera beres. 1000 pesos will do him.mark juga membaca ini dan sinar nakal langsung lewat di matanya. jadilah kita membiarkan polisi itu bicara tentang violence against public space, obscene art dan lainlain karena dia bukan orang yang buta seni. sampai disini, dia menekankan,

i once a singer!

yeah rite,

kami semua menyambut dalam hati.

drama kantor polisi itu juga berakhir seru ketika ia meminta kartu identitas kami masingmasing untuk dicatat di buku besarnya. ketika melihat paspor saya, pak polisi langsung histeris

oh my god, sister! i don’t realize you are not filipino. we have the same skin and face, diba?

oh my god, you come all the way from indonesia here just for being raped?

can you say some tagalog word? perfect sister! god be with you

kami mengakhiri hari itu dengan menyantap inasal pork jam 4 pagi. saya mengecek ponsel, ada pesan dari vic bahwa janji kita ditunda jadi jam 7 pagi. untunglah, sebelumnya kami sepakat untuk mulai jam 6. mendengar itu, mark bertanya:

do vic cast you also?

haha polos sekali. saya bilang,

tidak, saya tidaklah sepopuler itu

belum

kata mark

not after me,

tito, partner saya menyambung genit. kami terbahak.

petualangan jam 7 pagi dimulai. vic membuka pintu mobil dan tertawa menanyakan cerita suting semalam. ada bong juga. sopir pribadi vic yang cinephilic. sebagai supir taksi, penghasilannya sebenarnya lebih besar. tapi berada di lokasi suting setiap waktu dan akses bebas ke festivalfestival film membuat bong memilih terus bersama vic. kami menjemput aped, kawan vic yang juga mengerjakan desain produksi dua film vic. saat sarapan, aped meminta saya memerinci bioskop seperti apa yang masuk kriteria saya. aped sudah membuat daftar hampir 50 lokasi bioskop di manila. mati Aku!

 


Saya rasa, saya perlahanlahan paham mengapa saya sering menganggungkan umur. Umur bicara ketahanan diri. Durabilitas. Bertahan pada identitas yang dibangun dan diyakini, bertahan pada poros perubahan yang diikuti, bertahan pada kepercayaan terhadap segala hal bersifat sementara dan karenanya mau tetap berusaha menempatkan diri dalam kesementaraan keyakinan.

Hal yang berjalan terbalik dengan logika usia. Usia adalah penanda yang dipakai untuk menunjukan perjalanan sebagai sesuatu yang linear. Usia penuh dengan monumen pencapaian yang tidak subtil, dan karenanya kerap didewakan.

Usia akan menunjukan saya sebagai perempuan lajang, 28 tahun, sedang menyelesaikan tesis S2 dengan topik yang disukai tapi tak kunjung selesai, mandiri selama 10 tahun, sukses dalam karir karena masuk majalah dan kondang di website, juga kerap bepergian keluar negeri belakangan ini.

Umur menunjukan saya sebagai perempuan lajang dan jelalatan, gaya bicara yang 30 something, penampilan 20 something, pekerja sok intelek nan elusive, suka terbelalak jika melihat orang tua dengan pencapaian yang hanya ada di dongeng. Akhirakhir ini bertambah sebagai tukang ngutang yang dipercayai karena reputasi.

 


perry dan saya

23Oct09

mulut saya menganga dan matanya bersinarsinar waktu bercerita soal instalasi topi “petit prince”.

you know, when snake eats elephant, you know little prince, diba?

ia bicara dengan gaya taglish yang sangat akrab, dan lebih bersemangat lagi melanjutkan ceritanya setelah melihat reaksi saya yang tidak kalah bersemangat

that Lukas, the director, he doesn’t know about little prince, pero when i asked him, can i keep the snake eats elephant as my souvenir, he stares at me and shakes his head. he doesn’t know that. how inutile, diba?

teman saya adalah salah satu aktor pendukung untk film berbujet besar, Mammoth. tentu saja sebagai pribumi filipina. walau versi theatrical releasenya hanya memperlihatkan dia dalam 4 frame (dan menghapus 5 scene bagiannya), ia jelas punya banyak cerita untuk dibagikan.

ular makan gajah, barang yang diperebutkan itu lenyap dihari berikutnya. kata dia:

putang inabo! if only i didn’t mention about it, no one will knows!

mengalirlah semua cerita:

mungkin mereka melindungi itu hanya karena nilai jualnya. seperti yang bisa kamu liat, set property nya sangat sofistikasi. karya seni dimanamana. 1/3 dari ongkos set bahkan dihabiskan untuk sebuah karpet persia di kamar Soho yang ditempati Gael.

selama produksi, heath ledger beberapa kali datang menengok istrinya, Michelle yang menjadi female protagonist di situ.

katanya :

heath is just like us, you know? when  said like us, it really means like us. ah no, he’s wearing short and crocs, and linger at my trailer with beers. you see, just like us.

still, it’s “little prince” , ah no? parang, only through heart because what essential is invisible for the eyes.

saya terdiam dan menatapnya lama. tak pernah menyangka akan terlibat dalam perbicangan seperti ini dengan dia. separuh tidak rela hati saya kalau teman yang ini pun harus masuk dalam folder “so called philosophy”. saya banting setir ke hal teknis

where’s alexis grave?

dengan santai dia menjawab:

disekitar sini kok. tempatnya posh pokoknya

perasaan saya jadi lebih gak enak lagi. salah strategi. dia bercerita kalau bahkan tidak hadir saat upacara di gereja maupun penguburannya.

instead of seeing familiar faces, i know that there will be more lola with diamonds and big hair do

saya megerti sekali perasaan itu. maka saya melanjutkan pertanyaan dengan topik ini:

so where were you that time? and what were you prefer to do than going to the event?

jawabnya:

i went to penguin and stay there. until very late. the cafe is close but it’s ok lang. it’s my friend who owns it, so i can be there on my own. put music, put on light, have my beer and think about a lot of things. i think i even think about the world, the earth, the you know hahahaha

saya tidak tertawa. pertanyaan berikutnya:

kenapa penguin?

jawabnya

because it’s my lasing spot with him

kami berdua terdiam dan dia meraih saya ke dalam pelukannya. hening. lama sekali, lalu…

kamu tahu, di final scriptnya, Mammoth harusnya ditutup dengan dua baris puisi seorang penyair india. sesuatu tentang kebahagiaan dan kesedihan berbagi tempat yang sama dalam sinar mata

nanti ya, ku cari lagi scriptnya biar kamu tahu siapa penyairnya.

hening. dia mengecup dahi saya. kami tertidur sambil berpelukan. entah berapa lama, sampai :

excuse me po!

saya terbangun dan langsung membangunkan teman saya. setelah beberapa detik sadarlah kami. bertukar pandang dan langsung bertindak:

salamat po!

satpam itu hanya menggelenggelengkan kepalanya. mungkin dia tidak akan habis pikir, bagaimana bisa dua orang ini tertidur di halaman mall yang terik sambil berpelukan.

snake eats elephant


What have you lost?

Buku itu menyolok sekali diantara bukubuku pengembangan diri semacam sop ayam dan sejenisnya. Sampulnya juga sudah mampu bicara banyak. serupa bumper pembuka serial Lie to Me (ya, season dua sudah beredar, iya, saya sudah nonton), ekspresi wajah maupun tubuh atau keduanya atas emosi di atas.

Apa saja yang telah hilang dari kamu?

Dompet ? Tahun? Binatang peliharaaan? Saudara? Arti katakata? Rasa yang dirindukan dari makanan kesukaan? Detail di kelas tiga sma? Rencana?

Beberapa hari yang lalu saya menemukan hal yang telah hilang dari saya selama hampir satu tahun ini. Rasa sayang terhadap diri sendiri, yang walaupun telah menggema kencang dari orangorang disekitar saya, tetap saja ternafikan. Bukan masalah bagaimana mereka terhadap saya, tapi bagaimana saya terhadap diri saya sendiri.

Kata tom waits

it’s not me, it’s the piano that been drinking

Kata Mr.Punk

gw gak taulah lo yang sekarang. Dan gak peduli juga lo kayak apa sekarang. Kita kan berteman dari dulu. Itu landasannya. Itu awalnya. Akhir itu cuma sesuatu yang dicaricari. Apalagi kalo akhir itu adalah karena salah satu berubah. Taik kucing

Harus saya akui, percakapan dengan mr.punk mengembalikan keyakinan saya banyak sekali. Keyakinan bahwa ada hal yang memang tidak pernah dimaksudkan untuk salah, ia hanyalah ‘tidak benar’ sejak awalnya sehingga pemaksaan atasnya hanya melahirkan efek gelombang kesalahankesalahan baru. Tidak benar yang berarti dibangun atas dasar ‘tidak sesuai ekspektasi’. Ekspektasi yang dibangun atas dasar mengisi halhal yang telah lebih dulu hilang. Hilang dalam waktu, hilang dalam arti, hilang dalam ingatan.

Hilang, sehingga kita bahkan tidak ingat lagi bagaimana rasanya sesuatu, bahkan apakah pernah benarbenar mengalami sesuatu atau hanya sebuah memori palsu, karena percaya pada sesuatu yang harusnya berjalan sebagaimana mestinya. Mesti begini.

Jadi, apa yang pernah hilang dari saya?

Keyakinan bahwa saya pernah memiliki suatu standar, yaitu tanpa standar.

Kehilangan yang membuat saya tidak tahu lagi bagaimana caranya bahagia. Karena kecenderungan untuk mencaricari suatu arti dibalik segala hal. Mencari yang lebih dari sekedar perjumpaan. Yang meriah dari sekedar berisik. Kecintaan pada kebetulan karena kebetulan itu sendiri, bukan bagian dari yang bisa dirancang dan dikirakira.

Kehilangan yang membuat saya melihat diri saya sebagai matahari dan yang lain tidak akan ada artinya tanpa mengalami pemaknaan dari saya.

Mungkin temanteman saya juga merasa kehilangan saya. Mungkin juga tidak. Mungkin mereka tetap menjadi diri mereka, sehingga tak payah memusingkan diri akan perubahanperubahan saya. Mungkin mereka melampaui permenungan saya atas segala waktu luang.

Yang saya tahu, saya pernah hilang dan sekarang sedang dalam proses reunifikasi.

Semoga saya selamat sampai di seberang sana, dan bertemu kembali dengan kawankawan saya. Mereka yang pernah hilang, mereka yang setia dengan keker, mereka yang sigap membawa perban luka kemanapun, mereka yang tinggal di dalam rumah kacanya dan merasa tidak pernah ada yang berubah, mereka yang….

Ya ampun. Kaya sekali saya. Terima kasih ya.

“once i wanted to be the greatest

two fists of solid rock

with brain that could explain

any feeling”

The Greatest- Cat Power


you fear that if anything else goes wrong, it may prove to be ‘the last straw that breaks the camel’s back’. Where does that phrase come from? Aren’t camels supposed to be beasts of burden? Perhaps it is their shape that makes them so susceptible to overloading. It can’t be easy for the jammaals, to spread the weight evenly when they’ve got all those bony protrusions to work around.

I’m not suggesting that you are like a dromedary – but if it happens during sometimes,  feeling like  you have too much to carry, you won’t make it easier by getting the hump.

lo nggak kesepian, tapi lo lagi nggak tau mau ke mana semua ini : said a friend.


mockumentary.

This kind of thing always occupied me when installing myself at an infinite small not yet become garden in the Westside part of my house while smoking:

I remembered I read one’s palm almost a year ago, actually one of my oldest method of cruising and to get laid, and pronounced to him that he’s a “man of become”. By that I meant that he’s a kind of man who will quest and pursuit his dream at any cost and will do a sudden stop at the edge of reaching a victory goddess foot, just by letting practical worries entering his very thought.

Seems to me like I’ve transferred to be one.

Count how many “I and its possible derivation” I (again) used in this writing. Can’t you see how negative I’ve growth?

I’m not a wanton temptress and this piece definitely not a paragon of virtue.


I always thought that my trip to Manila was might be an ease for personal grief. Grief, what a word! I actually accept this term to define my feeling toward (my relationship with) you yesterday. It was the time when I realized how much I strayed myself of experiencing this again.

But we are ruled by word, so Sontag speaks. Indeed, that’s the only thing I can rely on from our acquaintances. I lulled myself on how many good things I’ve learnt and experienced through all this; on how thankful I am for living a life in this scene. Yesterday, when realized how myself defending from being in this position again and again, I redeem the words. and by that, all the memories. when my memories become slogans, i no longer need them nor believe them.

if you are decree by the prevail numbers of my words, so am i exhausted by the non existent literature of unwritten letters.

albeit the feeling i have now toward this accquintancy is still shameful for me. i’m sorry seeing myself sorry not to take any longer road ahead.


Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Harusnya saya menghadiri jamuan makan malam ulang tahun sahabat saya, tapi urun. Mata saya bengkak dan garis mulut saya sudah tak bisa ditarik lagi.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Pagi tadi, ditengah segala frustrasi saya karena  tak bisa tidur dan pikiran harus bekerja seharian di lapangan, saya mendapat telpon dari seorang kawan yang bekerja sebagai wartawan di Manila.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Berita pagi itu segera menyebar di lingkup pekerjaan saya. Sebuah berita yang membuat paling tidak, perfilman di asia tenggara, terguncang hebat. Teman saya meninggal tertembak perampok yang mengincar macbook pronya. Too much for macintosh, demikian mantra rekan kerja saya seharian ini.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Saya baru bisa menangis malam ini, karena seharian harus bekerja mengurusi sebuah workshop film tingkat internasional dimana seperempat orang yang terlibat diantaranya juga kenal dengan teman yang dipaksa pergi itu. Pembicaraan seputar berita perampokan dan kenangan terakhir tentangnya dilakukan dengan segelas kopi persis seperti adegan film yang sering kami cerca.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Saya mendapati seorang teman di ibu kota membuat tulisan tentang kehilangan yang ia rasakan. Tapi rupanya ia memandang dirinya sedemikian tinggi, sehingga tulisan itu menjadi semacam perwakilan dari lingkaran orang Indonesia untuk teman yang pergi. Lengkap dengan titel dan nama organisasi masingmasing, seperti : Si A dari komunitas A merasa kehilangan karena proyek tulisan bersama mereka sedang seruserunya. Tak sempat mematikan koneksi internet, saya lari ke kamar mandi dan muntah.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Ketika saya berharap menemukan bahu tempat bersandar dan menangis sepuasnya, dan kenyataannya tidak ada yang tersedia. Atau bersedia. Pesan singkat saya :

Sibuk?

Berbalas dengan panjang,

Ya,…. (dengan varian kerja masingmasing).

Tentu, saya mengerti. Siapa sih sekarang yang tak dihajar tenggat waktu? Maaf, saya sedang dihajar kehilangan.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Hari ini, saya menata kembali garis yang memisahkan antara diri saya, orang lain dan harapan yang boleh dibangun diantara keduanya.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Untuk bisa puas dan menerima bahwa yang tersedia adalah layanan pelukan maya, tangisan lewat telpon dan janji untuk bertemu sesegera mungkin jika pekerjaan telah selesai.

Seperti itulah ternyata hidup saya. Hanya seperti ini.

selamat jalan alexis. satu bulan usia kita berkawan.


Sepertinya, saya belajar satu hal lagi tentang keluarga hari ini. Sepertinya, orangorang butuh berkeluarga, membangun keluarga dalam segala pengertian dan kemungkinannya untuk memperkecil jarak di dalam dirinya. Antara diri yang disadari dan dimaui. Diri yang dihindari dan diri yang menunggu untuk dikenal.

Sahabat saya, si spons kuning langsat pernah bertanya pada saya:

Lo pernah gak ngerasa gak mau punya keluarga karena takut menjadi orang tua yang seperti orang tua lo sekarang?

Saya tersenyum saja. Terdengar sangat familiar. Itu adalah saya, sekurangnya enam tahun yang lalu. Saya yang merasa bisa mendaftarkan kealpaan orang tua dan keluarga saya kepada saya. Saya yang menunggu untuk dikenang.

Dan benar saja. Pertanyaan itu datang dari perempuan yang ditaksir oleh si spons. Saya terlupa, apakah saya menjelaskan kepada si spons kalau fase itu akan diikuti oleh fase lain yang dikenal dengan baby fever. Keinginan untuk terikat, mengikatkan diri, diikat dalam sebuah pola hubungan yang disepakati bersama. Tidak melulu pernikahan. Bergantung pada ideologi masingmasing tentunya. Ada yang ingin punya anak tanpa harus menikah atau mempunyai hubungan yang mapan dengan pasangan, mewujudkan  kehidupan kolektif seperti yang memori yang tercungkil dari satu segmen Helter Skelter; melegalkan komitmen dengan segala cara (termasuk kawin binan di depan notaris. Gak sekalian aja Pejabat Pembuat Akta Tanah?!). Sesuatu yang dirasa paling bisa melengkapi dan lagilagi memperkecil jarak. Sesuatu yang tampak paling dekat dari apa yang diinginkan selama ini. Paling dekat, dan terus menerus mendekat. Tapi, bukankah diri adalah konsep yang elusif?

Saya percaya, bahwa orang tidak pernah lupa akan kebenaran. Kita hanya menjadi semakin canggih dalam berbohong.

Seperti pameo di warung dengan penutup papan berangka : sekarang lunas, besok boleh ngutang. Yang ada, kalimat itu tetap benar setiap kali kita berkunjung. Setiap kali menandakan hari ini. Dan yang besok, hanya ada di anganangan kita. Besok yang selalu menjelma menjadi hari ini ketika ia dialami. Dan hari ini berarti sesuatu yang nyata. Dan kita kembali bermimpi untuk, besok.

Film yang saya tonton dua hari ini bicara hal yang sama. Film pertama adalah potret keluarga paling umum di seluruh dunia. Dengan kemarahan dan tuntutantuntutan yang sama. Dengan ambisi yang satu: fungsional. Begitulah jadinya. Setiap individu terbelah untuk berfungsi dengan baik ,sebagai diri sekaligus sebagai anggota keluarga. Film itu memberi ruang kepada penonton untuk berpindahpindah dan menikmati hidup a la masingmasing anggota keluarga. Bagaimana perilaku yang satu sangat mempengaruhi kondisi psikologis yang lain, dan bagaimana mereka masingmasing menyangkal itu. Bagaimana mekanisme fase cermin sebenarnya tidak pernah berhenti. Ketika individu mengidentifikasikan dirinya sebagai negasi dari individu yang lain, mereka tetaplah dua individu yang identik, dalam waktu sosial dan kerangka ideologis masingmasing.

Film kedua justru menampilkan potret keluarga yang disfungsi di tengah lingkungan sosial yang disfungsi di sebuah bangsa dan negara ,yang diamini banyak pihak sebagai bangsa dan negara yang juga, disfungsi.  Sepanjang film kita disuguhi upayaupaya masingmasing anggota untuk menjadi fungsional. Wajar kan? Kalau segala sesuatu yang ada disekelilingmu terasa begitu abstrak dan tak terjelaskan, maka yang akan dilakukan adalah mencoba menjadi lebih realis daripada yang lain. Menjadi sesuatu yang bisa menjelas dirinya sendiri, tanpa payah menarik teori ini itu. Pendeknya, berupaya menjadikan diri yang bisa didefinisikan umum.

Ada dua hal yang sama dari kedua film ini. Yang pertama, adalah bagaimana setiap orang membiarkan dirinya untuk dipengaruhi oleh hal diluar dirinya. Terlihat atau tidak, bukan itu urusannya. Kedua film itu menunjukan bagaimana sebuah momen pemicu tidak datang dari konflik internal tokoh vs. dunia di luar dia. Melainkan, bagaimana dunia bersikap terhadap dia.

Hal kedua adalah bagaimana setiap tokoh dalam film itu mengijinkan dirinya untuk melakukan perubahan., untuk berubah. Momen pemicu bisa datang dalam banyak muka: tragedi, sial beruntun yang bisa jadi bahan obrolan di jamuan keluarga, juga, kejadian seharihari. Apakah momen tersebut penting? Iya dan tidak, bagi saya. Dia menjadi pemicu ketika kita membiarkan (dan membuka) diri untuk dipicu. Kenyataannya, tragedi bisa terjadi hari ini dan kita melihatnya dengan mata statistika; buku sekolah yang berantakan digigit anjing kecil piaraan baru; mencuri baca diari orang lain : semua hal yang jamak terjadi tanpa pandang lokasi atawa musim.

Yang memicu adalah sesuatu di dada dan di kepala. Di hati dan di memori. Sesuatu yang membuat kita bertindak untuk melepaskan ilusi ilusi jarak tersebut dan, memulai hidup. Sesuatu yang membuat satu hari yang sangat biasa menjadi awal dari seluruh hidup yang ada di depan kita. Satu hari yang didaulat untuk berdamai dengan si diri.

mungkin kalau saya mengijinkan hari itu terjadi pada saya, saya akan kembali menonton “Le Premier Jour du reste de Ta Vie” dan  “Flowers in The Pocket” secara berurutan. seperti dua malam ini. seperti ulang tahun orangorang yang saya kasihi: mamito, celine dan papito.

“happy birthday” is never an enough word! not even “i love you”.