Previous Post
Seminggu bersama the papi seperti telah membayar duapuluhtujuh tahun kebersamaan kami. Seringkali, di tengah aktivitas kami yang tidak banyak itu ( wine, rokok, nonton film), saya mendapati diri saya bertanyatanya : sebenarnya saya sedang bersama siapa sih?
Mungkin dia pun demikian, mendapati anak perempuannya telah menjadi compañeros bagi harihari tuanya.
Suatu hari, kami melompat ke taksi dengan dia sebagai kaptennya. Kami akan makan siang, dan dia bilang: hari ini papi yang pilih ya! Saya tidak pernah menyangka siang itu akan jadi siang yang panjang sekali; di jalanan dan terlebih di kepala dia. Dia bercerita, tempat itu adalah tempat dia biasa makan dengan temantemannya ketika gajian besar atau perisitiwa penting, seperti pertunangan. Alarm saya berbunyi nyaring: gajian? tunangan?
“iya…waktu papi masih jadi wartawan pelopor!”
Untung saya bukan kapten Haddock sehingga “sejuta setan badai” tidak perlu menyembur. Tapi demi segala yang hidup, dia, the papi sedang mencari tempat makan dari tempatnya bekerja di masa orde lama!!!!
Seminggu itu juga menjadi masa yang panjang bagi saya untuk bercermin terhadap apa yang dia lakukan selama ini, dan tentu saja apa hasilnya yang terlihat. Ketika dia bercerita tentang hilangnya kepercayaan dia terhadap gerombolan Brutus, saya bertanya lembut:
Tidak! Gak sama sekali. Terlalu datar malah
Ehm, tawar hati?
Ya! Mungkin itu kata yang tepat. Tawar hati
Kami samasama terdiam, dan dia menyodorkan rokok ke arah saya, setelah membakar satu untuk dirinya sendiri.
Tidak ada yang dramatis dalam perpisahan kami kemarin. Saya terburuburu berkemas, sambil tetap mengecek arus imel yang sibuk. The papi, santai menonton film detektif swasta yang menyandera entah siapa entah di mana dengan bahasa spanyol latin dan inggris. Sesekali dia harus menggeser saya karena menghalangi pandangannya. Ketika pamit, dia bertanya:
Gak nunggu filmnya selesai?
Saya ketawa sambil mencela seleranya. Dalam damri menuju bandara, saya menerima sms darinya:
Kan, Charles Bronson!! Adegan penutupnya bahaya lho!
Saya tersenyum dan menyeka sedikit air mata yang nyembul. Cult is in my blood, for sure!
Kalau ada judul yang tepat untuk menggambarkan seminggu kebersamaan kami, saya akan menuliskan: Harold and Maude, another story that comes alike.

Saya benci saatsaat saya harus pulang. Saya benci menyadari bahwa sekali lagi, sayalah yang melangkah ke arah pintu keluar dan dialah yang memeluk saya dalam diam.
Filed under: la vie en rose | 1 Comment
Search
-
You are currently browsing the tempus fugit... weblog archives.

memelukmu dari dalam. ah, betapa aku menginginkan itu. tahu ga, akhir2 ini aku mencoba untuk melihat ayahku dari dekat. belum bisa secara heroik mengatakan “aku menyayangi ayahku” tp paling tidak membuka ruang. perlahanlahan. untuk yg satu ini tidak ada keras kepala, tidak ada kata harus, dan tidak memaksa diriku begitu keras seperti biasanya.