“Pilihlah pekerjaan yang engkau suka, maka engkau takkan pernah bekerja sehari pun sepanjang hidupmu”

konfusius

Membaca berita dan kegemasan orangorang tentang ujian nasional, saya langsung terpikir the mami. Bagaimana kirakira dia menyikapi semua ini kalau dia masih menjadi kepala sekolah, walau buat saya dia adalah guru seumur hidup. Saya ingat, bagaimana kami,seisi rumah harus bangun jam lima pagi serentak, dan mengerjakan semua pekerjaan yang sudah dibagi berdasarkan kondisi masingmasing. Tugas pertama saya peroleh di umur enam tahun, begitu masuk kelas satu sd: menyiram halaman! Suatu sore mami pulang membawa ember kecil biru muda, katanya khusus untuk saya. Keesokan paginya, dan pagipagi berikutnya, saya harus mengangkut air dengan ember itu sampai ke halaman dan menyiramnya. Ada saudara sepupu yang bertugas menimbakan air, karena ketika itu, kami belum memiliki pompa air listrik. Di kelas tiga sd, saya mulai berjalan kaki ke sekolah saya, yang tepat bersebelahan dengan sekolah mami. Kami berangkat bersama, tepat jam 6.30 wita; bedanya mami dengan suzuki sedang saya berjalan kaki bersama sepupu saya yang kelas enam sd. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang untuk liburan kuliah, saya mencoba napak tilas rute perjalanan masa SD itu. Sepanjang jalan saya mengutuk dan mengingatingat mengapa dulu saya menerima dengan rela keharusan berjalan kaki itu, keharusan berjalan menempuh 2 x 3.5 km untuk pergi dan pulang sekolah.ketika saya mengajukan complaint itu, the mami menjawab dengan acuh:

karena 3.5 km itu kan sekarang kau bisa berjalan sejauh yang kau mau, termasuk menjauh dari mami!

Kenangan besar saya dalam membentuk tim dengan the mami adalah ketika kelas enam. Ada lomba karya tulis bagi anak kelas lima dan enam, tingkat nasional, dan karena the mami bukan kepala sekolah saya, maka dia pun tidak memaksa saya secara formal untuk mengikuti itu. Dia cukup tahu bahwa natur saya adalah menidak, jadi lebih baik jangan disuruh. Dia hanya meletakkan formulir dan syarat pendaftaran di meja makan, dan bilang:

Asyik tuh, kalo ade cobacoba nulis!

Saya mencoba, bukan karena tetek bengek lomba, tapi karena karangan saya selalu dicekal oleh guru bahasa indonesia saya. Ada dua kejutan yang menunggu saya setelah itu; yang pertama adalah karangan saya terpilih untuk mewakili propinsi dan yang kedua, adalah karangan itu batal dikirim, terkena diskualifikasi karena saya mengerjakannya dengan ketikan komputer. Ketika itu tahun 1993, dan komputer di wicked little town adalah pajangan etalase atau ruang kepala dinas…

Mendengar berita itu dari the mami ketika ia pulang dari sekolah. Saya menangis sebentar dan terhenti karena langsung dibentak:

Trus kalo nangis, beres?

Saya menghapus air mata dan menceritakan semua keberatan saya. The mami memakai lagi sepatunya, meminta saya bersiap untuk menghadap kepala dinas P & K yang mengeluarkan keputusan diskualifikasi itu. Kebetulan kantor P&K memang hanya berada tidak jauh dari tikungan rumah kami. Maka menghadap lah saya. Pak kepala dinas mendengar,mungkin dengan setengah geli, semua argumen saya, sementara the mami berdiri di pintu, tersenyumsenyum sambil merokok, sambil menghalangi dan memberi keterangan pada pegawaipegawai kantor yang mendadak berkumpul. Sebuah bahasa tubuh yang sangat jelas bagi saya, bahasa yang bicara dengan tegas: Biarkan! Ini perangnya. Bahkan saya pun tak mencampuri

Perdebatan dengan pak kepala dinas berlangsung seru. Menurut dia tidak mungkin anak kelas enam sd bisa mengoperasikan komputer. Dan karena itu, jika saya mau tidak didiskualifikasi, saya dipersilahkan menulis ulang karangan itu di depan dia. Argumen saya adalah tidak ada syarat penulisan di formulirnya, yang berarti pakai komputer pun tentu tidak masalah. Saya adalah anak bungsu, dan kakak pertama saya ketika itu sudah mengerjakan skripsinya. Dia menyogok saya dengan games Digger dan Pacman, agar saya mulamula familiar dengan komputer, kemudian meminta saya mengetikkan skripsinya. Saya bilang bersedia mengerjakan ulang tulisan itu dengan mengetiknya kembali di depan pak kepala dinas. Masalah dimulai, karena pak kepala dinas tak punya komputer. Ketika kami ke ruangan atasan pak kepala dinas, masalah juga tidak selesai. Disana memang ada seperangkat komputer yang tidak tersambungkan satu dengan yang lain. Bahkan stavolt pun tak ada! Saya merasa tidak perlu membuktikan apaapa lagi setelah itu. Dalam semua proses itu, the mami menempatkan diri sebagai pagar pemisah antara arena saya dan pak kepala dinas dengan audiens dadakan kami. Arakarakan menuju ruang atasan pak kepala dinas sangat mencuri perhatian seluruh kantor ketika itu.

The mami dan saya pulang dengan langkah ringan, bergandengan tangan dan mampir membeli es krim. Kami berbincang tentang segala hal, kecuali peristiwa siang itu. The mami dan saya samasama mengerti, tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan. Perang sudah selesai. Diselesaikan.

Ketika hardisk saya jebol saat skripsi sudah sampai pada analisa, saya menelpon ke rumah dan menangis tersedusedu. The mami kembali membentak:

Telpon mami kalau sudah selesai menangis! Setelah itu kita pikir solusinya

Saya jawab:

Mi, mami memang penuh solusi. Tapi sekarang saya sedang butuh menangis. Maukah menemani?

Dia diam, dan saya terus menangis sampai akhirnya saya menutup telpon setelah puas. Keesokan harinya, ketika saya menelpon kembali, the mami sudah siap bersama kakak saya yang memberikan beberapa opsi penyelamatan data.

Hari ini, dibalik selimut saya yang bau asap 76, saya membaca koran minggu dengan miris. Judulnya “perang gerilya si umar bakri”. Saya ingat the mami. Dan mengirimkan pesan singkat padanya:

Mam, selamat hari minggu. Sdh baca koran hari ini?klo masih aktif ,mami kira2 ngapain dgn kondisi UN taik kucing ini?

Jawabannya membuat saya tersenyum:

Slamat hari minggu,sdh gereja?mami sdg bantu di program2 kejar paket skrg. Klo mami masih aktif, mami akan menghadap penilik dan minta spy sklh mami tdk usah ikut UN dan penilik itu tdk akan mdapat angka kredit sama sekali utk satu sekolah yg tidak lulus. Anak2 akan mami pindahkan ke sekolah terbuka. Mami sdri yang akan menandatanganinya

Saya kembali membalas:

Memang ada sekolah terbuka di kota kita?

Jawabannya:

Mami yang bikin.

Dia memang tidak pernah pensiun.



3 Responses to “tentang the mami dan pekerjaan yang tak pernah usai”  

  1. 1 imam

    waw…. selalu saja ajaib.

  2. 2 Mpeps

    hahahaha keren betul mamimu, say. well, the mami n the papi, they’r in ur blood. jd inget pas kita cerita2 ttg fam’ mu mpe jam 1 malem. kikiki

  3. 3 Popi

    Nice story! mami yang kereen, papi too of course. One of a kind :)

Leave a Reply