“Tante kesepian ya? Tapi Refie lagi gak ada waktu nih…”
Itu respon ponakan saya, ketika saya mengajaknya liburan ke kota saya.
Separuh sedih, separuh kaget, saya menelan ludah. Sedih, karena mungkin, dia ada benarnya juga. Walau mungkin juga itu emosi sesaat, karena hormonhormon melankolis saya bekerja dengan sempurna kala mens.
Saya menelpon mereka sehabis mengajak anjing saya berjalanjalan di lingkungan baru rumah kami. Lingkungan yang lengkap dengan sawah, pohonpohon rindang dan kali yang mengalir dengan suara deras. Lingkungan dengan banyak tempat duduk di sepanjang bantaran kali.
Saya membayangkan, para keponakan saya yang anak kota itu pasti akan senang jika mendapati lingkungan seperti ini.
Kaget, karena saya tidak merasa itu adalah respon yang umum dari ponakan yang diajak liburan ke tempat tantenya.
Tapi mereka tidak salah. Saya memang jarang menyapa mereka. Mungkin, mereka telah jauh lebih advance dari saya dalam mengelola emosinya. Memutuskan untuk berhenti “mencintai dengan dalam” sejak dini. Saya bukan tante teladan. Saya layak mendapatkan respon itu.
“eh tante, entar dulu, Rani mo nanya nih!”
kata Refie, keponakan saya yang paling besar dan memberikan telpon kepada Rani, adiknya.
“tante, Anoa itu binatang sejenis apa sih?”
Saya menjelaskan, dan ditutup pertanyaan :
“ngerjain PR ya, de?”
“iya, hihi… makasih tante”
Saya menyambung:
“sama-sama! Eh…Rani tau gak kalo Anoa itu hewan yang cuma ada di Sulawesi Tengah?”
“gak”
“mungkin kapankapan bisa juga liburan ke palu dan minta opa atau om ecil ngantarin liat Anoa. Iya, kalo Rani dan mas Refie ada waktu, tentunya. Dag….”
Filed under: de plus en plus, la vie en rose | Leave a Comment
Search
-
You are currently browsing the tempus fugit... weblog archives.
No Responses Yet to “tentang mereka yang sudah bisa bilang: tidak ada waktu”