siang ini, seorang teman saya yang akan menikah dalam waktu dua minggu lagi, mengunjungi saya di rumah baru saya. Dia sudah ngotot sejak dua atau tiga hari yang lalu, saya pikir, hm…serangan cold feet!

Ternyata tidak. Semuanya baikbaik saja. Kerepotan dan peran sebagai calon pengantin yang benarbenar tahu apa yang mereka mau(dan k arena itu)harus mengurusi semua persiapan pernikahan mereka sendiri, benar ia nikmati. Suasana siang ini saya anggap menjadi semacam sekat dari rutinitas barunya akhirakhir ini. Friends meets, discussing heaven’s and earth. Oh…old days wish you never gone!

Perbincangan kami sampai pada berbagai urusan skype dan facebook. Setengah mengumpat, dia bilang:sialan lu, main kabur aja! Gw kan buka facebook garagara lo juga!

Saya tertawa saja. Setengah bercanda, saya bilang:

Gak nyangka aja orangorang segitu perhatiannya ama gw!  Yang foto lah,  yang komentar lah,… gerah dah! Pantes banget ya dikasih istilah “situs pertemanan”. Semua orang  sebegitu terhubung  dan berusaha menghubungkan diri.

Saya masih berpikir tentang hal ini bahkan ketika teman saya sudah mengakhiri kunjungan minggu siangnya. Bagaimana orangorang membeli blackberry hanya untuk bisa terhubung  terus menerus dengan orang lain. Dengan kisah orang lain. Dengan kehidupan orang lain. Atau bahkan, jika untuk diri sendiri, betapa kita takut pada kesendirian. Seberapa available kah kita untuk kehidupan di luar diri kita, sehingga perlu papan pengumuman real time seperti itu?

Saya menghapus  facebook  saya, salah satu alasan utamanya, harus saya akui, karena saya tidak bisa berhenti mengintip situs serene typhoon dalam hitungan dosis minum obat, 3x sehari. Dia, tidak memamerkan apaapa disana. Sayalah yang  menjadi neurotik. Menganalisis berbagai komentar dan foto yang dilemparkan orangorang ke dalam situsnya.  Mencari tahu jenis relasi dia dan orangorang yang masuk dalam situsnya.  Sesuatu yang membuat saya sendiri kehabisan energi dan muak pada perilaku « kelebihan waktu luang » itu sendiri. Sesuatu yang membawa saya pada kesadaran, bahwa yang saya perlukan dan yang berarti bagi saya adalah berita dari dia. Bukan tentang dia.

Maka berhentilah saya dari kecanduan buku bermuka (banyak) itu.

Suatu bunuh diri jangka pendek tentu saja. Tidak ada jaminan apapun bahwa dia, si tuan badai yang kalem itu, akan merasa kehilangan dan kemudian berusaha mencari saya. Yang ada, hanyalah satu kemungkinan,bagaimana di  suatu saat, dia sadar bahwa saya telah menutup pintu. Dan memberikan kuncinya kepadanya.

Untuk dibuka, atau dibiarkan tertutup selamanya. Dan mudahmudahan, hidup saya bisa terus berjalan.

Untunglah, ada tokoh august rush yang dalam usia 12 tahun bisa dengan nada pasti menjawab pertanyaan tentang  apa yang paling ia inginkan di dunia ini.

mungkin ada masa, mungkin masa itu datang di usia saya yang sekarang menjelang 30 tahun, untuk bertanya kembali: apa sih yang saya mau capai dari dunia?

tidak sebatas urusan pragmatis bertahan hidup, atau citacita utopis masa muda dan lunatik. tidak  sebatas pada mengukir sesuatu diatas sesuatu.

august rush, punya jawaban yang menendang kesadaran saya.

What do you want to be in the world? I mean the whole world. What do you want to be? Close your eyes and think about that.

found

entahlah. saya tidak tahu apakah saya mau membuat diri saya ditemukan, atau menunggu untuk ditemukan.



No Responses Yet to “ditemukan dalam kondisi yang bagaimana, mungkin itu pertanyaan selanjutnya.”  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply