on suicide

09May09

Dalam serial kegemaran saya sekarang, Lie To Me, tokoh Cal bicara tentang penyebab utama, dan yang paling umum, dari tindakan bunuh diri. Agoni.  Bukan sebuah isu baru bagi Cal. Kenyataannya, peristiwa bunuh diri ibunya, adalah hal yang memicu dia untuk menjadi dia yang sekarang. Penemu dan peneliti micro expression. Cerita kemudian berpusar pada bagaimana Cal dan lukanya yang belum selesai, terus menerus mendorong lingkungan sekitarnya untuk menerima atau setidaknya, beradaptasi dengan luka yang masih menganga di dalam dirinya itu.

Saya punya isu yang cukup besar tentang tindakan bunuh diri. Salah seorang teman saya melakukannya setelah sebuah proses diskusi yang panjang dengan saya. Jujur, saya merasa, I wish I could do better. Walau disisi lain, saya selalu mendukung tindakan tersebut sebagai keputusan individu yang sifatnya sangat personal. Sejajar dengan mereka yang melepaskan atau berpindah kepercayaan, atau pernikahan atau memilih profesi. Saya lebih bisa menghargai orang yang punya keputusan daripada mereka yang menyibukkan diri menjalani hidup, bukan mengisinya. Those who just getting themselves busy dying. Juga, ada satu masa dalam hidup saya ketika saya merasa bahwa sudah saatnya saya berhenti hidup. Nothing appeals me anymore. Sebuah kondisi yang saya rasakan justru ketika kehidupan saya berjalan dengan sangat lancar. Perasaan itu, however, ternyata hanya melewati saya. Tapi isu tentang tindakan bunuh diri jelas punya jejak yang sangat dalam di diri saya.

Menonton Cal Lightman, yang diperankan dengan sangat baik oleh Tim Roth, saya seperti melihat tumpukan agoni yang dirubah menjadi energy potensial. Potensial menguntungkan, yang sama dengna potensinya untuk merugikan. Bagi Cal dan bagi orangorang disekitarnya. Saya melihat diri saya dalam tokoh Cal. Selama ini, saya pikir, yang saya butuhkan hanyalah terus menjaga semangat saya. Semangat untuk tetap hidup, untuk bergerak maju

Ternyata, untuk bergerak dengan leluasa, saya tetap butuh meninggalkan bebanbeban besar itu dan menanggalkannya dari diri saya.

Jika tidak, mereka bagai timbunan lemak dan penyakit yang bertahun tahun ada namun tak kunjung dihiraukan. Ada saat ketika proses unik itu mencapai masanya; menunjukan hasilnya. Semua menjadi tak tertanggulangi, even worst, tak tertelusuri lagi asal muasalnya.

Tibatiba, ia hadir sebagai hal yang sangat besar dan membunuh saya dengan perasaan yang sama dengan masa lalu, what have I done wrong?

Hanya saja, kali ini ditambahi dengan, against myself



No Responses Yet to “on suicide”  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply