Kemarin, huruhuruf ini sudah berada di ujung jari saya, hendak menuliskan kalimat ini:
Saya sudah berhenti mengucap syukur.
Kemarin, menjelang malam, saya dihujani halhal yang sudah lama tidak pernah saya harapkan lagi.
07.00 pm
Seorang sahabat yang meninggalkan rumah bersama yang kami bangun karena tanggung jawab barunya sebagai kepala keluarga –kejadian yang membuat saya tobat membangun apapun dengan lakilaki hetero penganut paham lakilaki sebagai sole provider- menelpon dan bertanya kabar saya. Dia hanya tinggal di ujung lain kota ini, tapi semesta membuat kami jarang bertemu. Dan sejujurnya, saya pun tidak lagi memiliki dorongan untuk bertemu dengan lingkaran kehidupan saya yang lama. Benteng pertahanan saya sekarang berwujud lingkaranlingkaran sosial. Circle of influence, circle of concern dan diluar keduanya, circle of I don’t give a fuck about.
Sahabat saya ini menanyakan kondisi kesehatan saya, teringat betul bagaimana musim yang tak menentu pasti berpengaruh pada saya. Dia menyusul percakapan telepon malam itu dengan pesan singkat:
aku kangen ngobrol karo kowe meneh….
O7.30 pm
Sahabat masa kecil yang mengijinkan saya masuk dalam kehidupannya sekarang, meminjamkan rasa yang asing kepada saya tentang memiliki keluarga; mengundang saya mampir untuk merayakan ulang tahun anak keduanya dengan makan malam tujuh lauk asli Indonesia masakannya. Bersama dia, saya seperti mengalami campuran harihari dalam segala masa. Menengok masa lalu kami bersama dan berupaya memahami pelajaran dibaliknya sebagai marka perjalanan di masa sekarang. Merangkai masa depan dengan dagu terangkat dan hati yang selalu diingatkan untuk tetap merendah. Beberapa hari yang lalu, saat saya menerapkan metode salad bowl agar bisa bertemu dengan semua temanteman yang terkumpul di kota saya karena akhir pecan yang panjang, seorang teman berkomentar saat saya mengenalkan profil sahabat saya ini:
how can one still be friend since kinder garden?
Saat itu, saya hanya tersenyum bangga. Saya ingin memberi teman itu jawaban yang lebih pasti jika kami bertemu lagi suatu hari :
no one knows that it can be possible. For our case, we just never throw out the keys. Maybe by that, things always be possible.
Semalam, saya batal merayakan ulang tahun si kecil yang pertama dan batal mengisi perut saya dengan tujuh lauk khas Indonesia masakan teman saya. Badan saya tak bisa berkompromi. Sahabat saya mengerti, dan lebih dari mengerti ia membalas pesan singkat saya:
besok sepulang (jemput) sekolah, mau kutengok?
Saat itu juga, dalam balutan piyama bergaris milik the papi, saya merasa badan saya membaik.
Semalam, ditemani enzoenzo saya tidur dengan mudah tanpa bantuan apapun. Katakata sahabat serumah saya menggantung jelas dalam ingatan:
Dashyat nya ya perasaan dikangenin itu…
Semalam, menjelang kesadaran saya lepas, saya mencamkan satu hal untuk diri saya:
Saya sudah berhenti bersyukur. Tapi saya harus berterimakasih untuk orangorang yang telah menyayangi saya, nyaris tanpa syarat.
Thus, my life is worth a living.
Filed under: de plus en plus, la vie en rose | Leave a Comment
Search
-
You are currently browsing the tempus fugit... weblog archives.
No Responses Yet to “In my dad’s old strip pajama, I slept peacefully and give thanks.”