Archive for June, 2009
Ruang hati saya seumpama ruang menonton di sebuah gedung bioskop. Perkenalan dengan setiap orang adalah seperti memberikan satu karcis dengan nomor tempat duduk yang spesifik di dalam studio tersebut. Jika ada yang akhirnya pergi dari hidup saya, maka “kursi bernomornya” juga akan tinggal kosong. Demikianlah saya membayangkan. Di akhir film hidup saya kelak, bukan menjadi [...]
Filed under: de plus en plus | 1 Comment
june 16th
Seseorang mencolek saya di pinggir panggung rock klasik untuk meminjam korek, dan mengembalikannya dengan senyum dan mulut yang membentuk ucapan “thanx”.
Saya melambai memberi gestur “you’re welcome” dan membantin “manis eh! Kok gak pernah liat ya di jogja?!”
Tak sampai setengah lagu, si peminjam korek mencolek saya :
“you speak english?”
“fluently”
“what do you think of the band?”
“i’m not [...]
Filed under: rechercherait du temps perdu | Leave a Comment
tentang ditolak dan tertolak
Rasanya, kemarin saya diajarkan beda yang mendasar antara ditolak dan tertolak.
Ditolak, adalah pernyataan negatif atas hal yang diajukan. Tertolak, adalah penolakkan menyeluruh atas eksistensi.
Kemarin, saya merasa tertolak dengan telak.
Dan yang tersisa tinggalah, agoni.
and when is the next lesson? tomorrow. (the piano-1993)
Filed under: anomie, rechercherait du temps perdu | 1 Comment
Search
-
You are currently browsing the tempus fugit... weblog archives for the month June, 2009.