Ruang hati saya seumpama ruang menonton di sebuah gedung bioskop. Perkenalan dengan setiap orang adalah seperti memberikan satu karcis dengan nomor tempat duduk yang spesifik di dalam studio tersebut. Jika ada yang akhirnya pergi dari hidup saya, maka “kursi bernomornya” juga akan tinggal kosong. Demikianlah saya membayangkan. Di akhir film hidup saya kelak, bukan menjadi soal apakah ruangan itu separuh terisi atau separuh kosong. Yang jelas tinggal, adalah setiap kursi bernomor denga
n masingmasing kisahnya.
Ceritacerita yang akhirakhir ini saya dengar datang dari temanteman yang usianya lebih muda dari saya. Ceritacerita yang sedemikian rupa membuat saya menghargai generasi ini. Generasi yang tampak tanpa urgensi, kata salah satu dari mereka; juga generasi yang terlampau banyak disetir oleh segala hal yang bersifat “baik, harus dan wajib”. Yang baik adalah ilmu pasti, karena lakilaki harus menjadi pemimpin dan wajib menafkahi keluarganya. Tidak ada yang berbeda dengan apa yang saya dan generasi saya dengar dari generasi di atas kami, tapi penerimaan terhadapnya jelas bertolak belakang.
Generasi saya adalah sekelompok individu yang merasa selalu terdesak untuk berbuat sesuatu. Menjadi sesuatu. Kami tumbuh dalam kutub kutub yang senantiasa bipolar. Saya bercerita kepada mereka, bagaimana kebanyakan teman kampus saya yang lakilaki dulu, memilih masuk fakultas sastra karena tidak ada matematika. Karena merasa tidak bisa dikungkung, tapi juga bukan seniman yang serampangan. Sastra adalah jalan tengah. Kamu bukan seniman yang dituntut punya karya dulu baru bisa menyandang gelar; juga bukan kaum yang harus berseragam dulu baru bisa mendapat tegur sapa. Romantik? Sebaliknya, memuakkan. Kami benarbenar generasi negasi, menidak pada segala formalisme. Marxis baru, Musik parodi, Cultural Studies, Seni Kontemporer, Teater Eksperimental, Pendidikan Populer (slap at my face!) blablabla
Ceritacerita yang saya dengar hari ini adalah cerita tentang bagaimana generasi mereka bermain petak umpet dengan garis waktu linear “baik, harus, dan wajib” dan kesenangankesenangan kecil yang bisa mereka buat diselaselanya. Ada yang menekuni sejarah perang dunia II, belajar bahasa asing sampai mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan film ketika kesempatan jatuh padanya. Halhal yang dulunya sangat sulit saya pahami. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan sesuatu dengan sangat baik dan lumayan mendalam, tapi saling lepas satu dengan yang lain. Logika mengisi waktu tidak pernah ada dalam kepala saya. Buat saya, dan kebanyakan orang di generasi saya, segala hal yang dilakukan adalah pemenuhan diri atas diri. Diri atas pandangan orang lain.
Saya merasa picik dan menyesal atas segala penilaian yang pernah saya jatuhkan kepada mereka. Di mata saya, mereka menjadi ikon generasi sedih yang tidak mau ambil pusing dengan kesedihannya. Saya juga merasa sangat rendah ketika mengingat upaya saya sore itu untuk terdengar tetap bijak di hadapan temanteman saya yang lebih muda.
Malam ini saya berusaha memperbaiki kesalahankesalahan itu dengan mengirim pesan singkat kepada dua teman yang berbagi cerita kepada saya. Pesan pertama adalah:
Tujuan jangka panjang dalam bahasamu tadi, rasanya aku juga masih mencari. Karena aku tak percaya pada pandangan umum tentang yang harus dan yang wajib. Harus mapan, harus kawin, blablabla
Sampai kapan nyari? Gak tau. Seumur hidup pun tak apa. Karena dalam mencari, rasanya tidak akan terlalu kosong kan?
pesan kedua lebih kepada respon atas mekanisme pertahanan diri yang dibangun seorang teman ini terhadap masalahmasalah yang menimpanya. Ia direduksi sedemikian menjadi narasi. Lebih jauh lagi, lelucon. Saya hanya manggutmanggut karena diamdiam saya pun menjalankan mekanisme yang kurang lebih serupa. Walau terasa tidak manjur, tetap saja saya lakukan. Saya juga tidak tahu cara lain, sebenarnya. Tapi malam ini,rasanya saya jadi tahu, apa yang membuatnya tidak manjur seratus persen. Maka saya pun mengirim pesan singkat kedua, kepada teman yang ini:
Dans une grande rigolade, il y a agonie qui s’est reste.
Filed under: de plus en plus | 1 Comment
Search
-
You are currently browsing the tempus fugit... weblog archives.
mengapa gambar nenek nya hilang