Saya pernah percaya, bahwa di dunia ini, bukan hanya ada satu orang untuk satu orang yang lain; melainkan juga, satu karya seni yang diperuntukkan atau berbicara secara khusus dan tepat kepada satu orang saja. Satu untuk satu. Ekslusif ? memang. Sebab sebagaimana mimpi, rasa juga senantiasa sureal. meta bahasa.
Akhirakhir ini saya kembali berhadapan dengan harapanharapan semacam itu. Dan sedihnya, melihat bagaimana harapanharapan itu berguguran satu demi satu. Bagaimana obsesi membuat karya dan mendedikasikan seluruh hidup kepada karya itu, untuk kemudian diserahkan di atas pinggan perak kepada satusatunya alasan karya itu ada di dunia ini; menjadi kesedihan dan lelucon yang tetap sedih hingga mata berair. Bagaimana keinginan untuk mempunyai anak, atau membesarkan anak sesuai dengan impian menjadi sekat yang menyenangkan diantara agenda rapat dan kemarahankemarahan harian.
Yang terlihat jelas dimata saya, adalah bagaimana disaat yang sama, kita merasa sangat mencintai sekaligus menghindari imaji kita akan diri sendiri. Dalam hal membuat karya, jika harus menoleh ke belakang; saya selalu kagum dengan potret saya yang kelebihan energi mengimpikan ini dan menabung itu; menyicil kerjaan ini dan meluangkan waktu untuk itu; mencari dan menguji yang terbaik dari diri saya, untuk dipersembahkan dan memastikan bahwa semua itu termanisfestasikan dengan sempurna dalam karya itu. Sekarang, dalam jangka waktu yang jauh dan memori yang telah kering, saya bisa melihat betapa keras saya berusaha untuk melihat sisi terbaik di dalam diri saya terbingkai disana. Sesuatu yang bisa saya persembahkan kepada satu orang. Hanya satu orang. Benarkah karya itu untuk orang lain?
Dalam topik anak, saya melihatnya seperti sisi keping uang yang berbeda. Mungkin, ini adalah topik paling sedih dalam sejarah manusia. Dimata saya, anak adalah monumen frustrasi yang mewujud dalam daging, pola, citacita bahkan, jiwa. Setengah bercanda setengah serius, saya berkata pada seorang teman: kalau saja masa hamil itu lebih singkat dan tidak mengundang badai hormon, saya mau aja sih jadi pabrik anak! Untuk mereka yang ogah atau sudah gak bisa hamil karena umur atau karir; untuk pasangan homo; untuk penderita kesepian dan kebosanan akut… Jika saja itu semua bisa membuktikan, bahwa genetika hanya sekian persen jika berhadapan dengan semua bentukan dan hasrat untuk membentuk. Menjadikan sesuatu lebih baik dari pada seharusnya.
Maaf jika ada sarkasme yang keras didalam kalimatkalimat saya. Buat saya, memang demikian lah kenyataannya. Sarkas, tapi bukan peyoratif. Dan saya sungguh berniat melakukan itu, jika semua syarat tadi terlewati. Pada kenyataannya, saya hidup dan akrab dengan kategorikategori orang seperti yang saya paparkan itu.
Saya pernah percaya, sebagaimana semua anak perempuan yang mengenal kisahkisah dari pabrik disney, bahwa ada satu orang diluar sana yang tersedia khusus untuk saya. Saya tidak tahu, apalagi yang bisa saya percayai sekarang atau besok. Yang saya lihat, sayalah yang tetap setia dan tersedia, untuk diri saya.
Filed under: de plus en plus | Leave a Comment
Search
-
You are currently browsing the tempus fugit... weblog archives.
No Responses Yet to “tentang sesuatu yang lebih baik dari hidup”