Archive Page 2

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Harusnya saya menghadiri jamuan makan malam ulang tahun sahabat saya, tapi urun. Mata saya bengkak dan garis mulut saya sudah tak bisa ditarik lagi.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Pagi tadi, ditengah segala frustrasi saya karena  tak bisa tidur dan pikiran harus bekerja seharian di lapangan, saya mendapat telpon dari seorang kawan yang bekerja sebagai wartawan di Manila.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Berita pagi itu segera menyebar di lingkup pekerjaan saya. Sebuah berita yang membuat paling tidak, perfilman di asia tenggara, terguncang hebat. Teman saya meninggal tertembak perampok yang mengincar macbook pronya. Too much for macintosh, demikian mantra rekan kerja saya seharian ini.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Saya baru bisa menangis malam ini, karena seharian harus bekerja mengurusi sebuah workshop film tingkat internasional dimana seperempat orang yang terlibat diantaranya juga kenal dengan teman yang dipaksa pergi itu. Pembicaraan seputar berita perampokan dan kenangan terakhir tentangnya dilakukan dengan segelas kopi persis seperti adegan film yang sering kami cerca.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Saya mendapati seorang teman di ibu kota membuat tulisan tentang kehilangan yang ia rasakan. Tapi rupanya ia memandang dirinya sedemikian tinggi, sehingga tulisan itu menjadi semacam perwakilan dari lingkaran orang Indonesia untuk teman yang pergi. Lengkap dengan titel dan nama organisasi masingmasing, seperti : Si A dari komunitas A merasa kehilangan karena proyek tulisan bersama mereka sedang seruserunya. Tak sempat mematikan koneksi internet, saya lari ke kamar mandi dan muntah.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Ketika saya berharap menemukan bahu tempat bersandar dan menangis sepuasnya, dan kenyataannya tidak ada yang tersedia. Atau bersedia. Pesan singkat saya :

Sibuk?

Berbalas dengan panjang,

Ya,…. (dengan varian kerja masingmasing).

Tentu, saya mengerti. Siapa sih sekarang yang tak dihajar tenggat waktu? Maaf, saya sedang dihajar kehilangan.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Hari ini, saya menata kembali garis yang memisahkan antara diri saya, orang lain dan harapan yang boleh dibangun diantara keduanya.

Ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup saya.

Untuk bisa puas dan menerima bahwa yang tersedia adalah layanan pelukan maya, tangisan lewat telpon dan janji untuk bertemu sesegera mungkin jika pekerjaan telah selesai.

Seperti itulah ternyata hidup saya. Hanya seperti ini.

selamat jalan alexis. satu bulan usia kita berkawan.


Sepertinya, saya belajar satu hal lagi tentang keluarga hari ini. Sepertinya, orangorang butuh berkeluarga, membangun keluarga dalam segala pengertian dan kemungkinannya untuk memperkecil jarak di dalam dirinya. Antara diri yang disadari dan dimaui. Diri yang dihindari dan diri yang menunggu untuk dikenal.

Sahabat saya, si spons kuning langsat pernah bertanya pada saya:

Lo pernah gak ngerasa gak mau punya keluarga karena takut menjadi orang tua yang seperti orang tua lo sekarang?

Saya tersenyum saja. Terdengar sangat familiar. Itu adalah saya, sekurangnya enam tahun yang lalu. Saya yang merasa bisa mendaftarkan kealpaan orang tua dan keluarga saya kepada saya. Saya yang menunggu untuk dikenang.

Dan benar saja. Pertanyaan itu datang dari perempuan yang ditaksir oleh si spons. Saya terlupa, apakah saya menjelaskan kepada si spons kalau fase itu akan diikuti oleh fase lain yang dikenal dengan baby fever. Keinginan untuk terikat, mengikatkan diri, diikat dalam sebuah pola hubungan yang disepakati bersama. Tidak melulu pernikahan. Bergantung pada ideologi masingmasing tentunya. Ada yang ingin punya anak tanpa harus menikah atau mempunyai hubungan yang mapan dengan pasangan, mewujudkan  kehidupan kolektif seperti yang memori yang tercungkil dari satu segmen Helter Skelter; melegalkan komitmen dengan segala cara (termasuk kawin binan di depan notaris. Gak sekalian aja Pejabat Pembuat Akta Tanah?!). Sesuatu yang dirasa paling bisa melengkapi dan lagilagi memperkecil jarak. Sesuatu yang tampak paling dekat dari apa yang diinginkan selama ini. Paling dekat, dan terus menerus mendekat. Tapi, bukankah diri adalah konsep yang elusif?

Saya percaya, bahwa orang tidak pernah lupa akan kebenaran. Kita hanya menjadi semakin canggih dalam berbohong.

Seperti pameo di warung dengan penutup papan berangka : sekarang lunas, besok boleh ngutang. Yang ada, kalimat itu tetap benar setiap kali kita berkunjung. Setiap kali menandakan hari ini. Dan yang besok, hanya ada di anganangan kita. Besok yang selalu menjelma menjadi hari ini ketika ia dialami. Dan hari ini berarti sesuatu yang nyata. Dan kita kembali bermimpi untuk, besok.

Film yang saya tonton dua hari ini bicara hal yang sama. Film pertama adalah potret keluarga paling umum di seluruh dunia. Dengan kemarahan dan tuntutantuntutan yang sama. Dengan ambisi yang satu: fungsional. Begitulah jadinya. Setiap individu terbelah untuk berfungsi dengan baik ,sebagai diri sekaligus sebagai anggota keluarga. Film itu memberi ruang kepada penonton untuk berpindahpindah dan menikmati hidup a la masingmasing anggota keluarga. Bagaimana perilaku yang satu sangat mempengaruhi kondisi psikologis yang lain, dan bagaimana mereka masingmasing menyangkal itu. Bagaimana mekanisme fase cermin sebenarnya tidak pernah berhenti. Ketika individu mengidentifikasikan dirinya sebagai negasi dari individu yang lain, mereka tetaplah dua individu yang identik, dalam waktu sosial dan kerangka ideologis masingmasing.

Film kedua justru menampilkan potret keluarga yang disfungsi di tengah lingkungan sosial yang disfungsi di sebuah bangsa dan negara ,yang diamini banyak pihak sebagai bangsa dan negara yang juga, disfungsi.  Sepanjang film kita disuguhi upayaupaya masingmasing anggota untuk menjadi fungsional. Wajar kan? Kalau segala sesuatu yang ada disekelilingmu terasa begitu abstrak dan tak terjelaskan, maka yang akan dilakukan adalah mencoba menjadi lebih realis daripada yang lain. Menjadi sesuatu yang bisa menjelas dirinya sendiri, tanpa payah menarik teori ini itu. Pendeknya, berupaya menjadikan diri yang bisa didefinisikan umum.

Ada dua hal yang sama dari kedua film ini. Yang pertama, adalah bagaimana setiap orang membiarkan dirinya untuk dipengaruhi oleh hal diluar dirinya. Terlihat atau tidak, bukan itu urusannya. Kedua film itu menunjukan bagaimana sebuah momen pemicu tidak datang dari konflik internal tokoh vs. dunia di luar dia. Melainkan, bagaimana dunia bersikap terhadap dia.

Hal kedua adalah bagaimana setiap tokoh dalam film itu mengijinkan dirinya untuk melakukan perubahan., untuk berubah. Momen pemicu bisa datang dalam banyak muka: tragedi, sial beruntun yang bisa jadi bahan obrolan di jamuan keluarga, juga, kejadian seharihari. Apakah momen tersebut penting? Iya dan tidak, bagi saya. Dia menjadi pemicu ketika kita membiarkan (dan membuka) diri untuk dipicu. Kenyataannya, tragedi bisa terjadi hari ini dan kita melihatnya dengan mata statistika; buku sekolah yang berantakan digigit anjing kecil piaraan baru; mencuri baca diari orang lain : semua hal yang jamak terjadi tanpa pandang lokasi atawa musim.

Yang memicu adalah sesuatu di dada dan di kepala. Di hati dan di memori. Sesuatu yang membuat kita bertindak untuk melepaskan ilusi ilusi jarak tersebut dan, memulai hidup. Sesuatu yang membuat satu hari yang sangat biasa menjadi awal dari seluruh hidup yang ada di depan kita. Satu hari yang didaulat untuk berdamai dengan si diri.

mungkin kalau saya mengijinkan hari itu terjadi pada saya, saya akan kembali menonton “Le Premier Jour du reste de Ta Vie” dan  “Flowers in The Pocket” secara berurutan. seperti dua malam ini. seperti ulang tahun orangorang yang saya kasihi: mamito, celine dan papito.

“happy birthday” is never an enough word! not even “i love you”.


saya akhirakhir ini merasa betapa saya sedang diamati oleh banyak mata. mata mewakili pandangan. pandangan berasal dari konstruksi pikir dan budaya. konstruksi ini asalinya adalah waham. waham atau delusi adalah keyakinan palsu yang timbul dari luar, bersifat egosentris dan tinggal menetap. sesuatu yang dibawa dan ditetapkan seseorang secara sewenangwenang. sesuatu yang mungkin timbul setelah rangkaian nilai akan diri sendiri terbentuk. sesuatu yang bersifat sentrifugal.

sewaktu saya bercerita tentang diri saya yang merasa kehilangan mimpi, seorang teman baru dengan ringan berkata :

then raise d mug (fill with chocolate milk) to the dreamless yet alive

saya tertawa terbahakbahak. irony does work. obrolan itu tak saya pikirkan lagi sampai saya melihat jendela situs pertemanannya dibanjiri asmara. iseng, saya menggoda dia :

pantes aja lo hidup. dreamless yet flooding with love is not bad at all

balasanya serius juga. agak menyesal saya:

one can still live a life without either love or dream. but if i may choose, i’ll pick the 2nd one

saya hampir mengirimi dia esai panjang tentang segala taik kucing “act of reason” yang orang percayai sebagai sesuatu yang sudah semestinya. tapi sudahlah. dia mungkin juga tak menyangka topik basi ini harus berpanjangpanjang.

beberapa hari kemudian, sayalah yang menelan ludah. di etalasenya, dia menulis besar besar nama saya diikuti kalimat :

I found your cat

surprisingly enough, karena dia jelas mengerti apa yang kami bicarakan. lebih mengejutkan lagi, dia menghadirkan kucing saya ke depan, dan saya dapat membayangkan cengiran lebar yang mengikuti kalimat berikutnya:

so, you’re gonna chase it eternaly or kill it now right away?

saya hampir berpikir, bahwa saya sudah menangkap semua simbol di dalam percakapan dan bahasa yang kami gunakan. sampai hari ini ketika saya tibatiba sadar, meta teks yang ingin dia sampaikan. atau Beirut, si jenius pentolan group yang menyanyikan Elephant Gun. Atau si pembuat video klip.

atau sematamata saya dengan kesemenamenaan tafsir yang ada. tapi bukankah setiap orang seperti itu?

gajah, memang tak pernah lupa. mungkin dia bisa jadi pengamat yang baik di menara itu.


Malam tadi, saya dan dua orang teman dengan reputasi sama sebagai “old bitch on the block” bertukar cerita tentang makanan dan halhal seputar itu sambil mengitari hidangan mewah kami : babi merah, ayam goring bumbu wijen dan tahu siram tauco.

Satu bercerita bagaimana dia benci sekali makanan dingin, tapi dalam kondisi ingin segera kembali ke Indonesia dan berusaha tetap sehat, dia menyikat kornet beku di lemari esnya. Cerita dua tahun yang lalu ketika dia harus belajar di belanda.

Teman saya yang lain berkisah tentang bagaimana dia harus menghadiri makan malam resmi kantornya di restoran sushi. Sepulang dari tempat itu, dengan taksi yang berbagi dengan bosnya, dia dengan tak peduli berhenti di sebuah restoran padang yang mereka lewati.

Tibatiba saya teringat bagaimana saya bisa menelan berpiringpiring hidangan sushi ketika di Kanada, demi uang sisa untuk menikmati bir bersama C, tuan badai nan kalem saya itu. Dalam obrolan malam tadi, saya mempraktekkan bagaimana saya memasukkan semua itu sambil menatap dia.

Sampai sekarang, tidak tepat jika saya bilang saya suka atau tetap tidak suka makan sushi. Sejujurnya, saya tidak pernah ingat rasanya.

Yang saya ingat adalah kisahkisah yang kami bagi, suasana yang terbangun, dirinya yang sepenuhnya untuk saya.

Di tengah berpiringpiring sushi termurah yang bisa kami jumpai di jantung kota Toronto.

If memories could be canned, would they also have expiry dates? If so, I hope they last for centuries : chungking express


pokoknya, saya ketemu satu mantan saya lagi di lingkungan yang, least expected, untuk menemukan dia disana. setelah obrolan terputusputus siangnya, disambung telepon malamnya, dia sampai pada satu kalimat:

tapi emang kan? itu yang selalu gw cari tiap ketemu elo. gw kayak gini karena keadaan. elo, tuh, elo yang bentuk keadaan jadi seperti ini

for better for worse, kenangan seperti itu tidak mungkin tertukar sekalipun seseorang punya barisan panjang mantan.


Saya paling malas dengan yang namanya statistik. Satu, karena saya tidak pernah mengerti logika angka. Bagaimana suatu jumlah bisa menjelaskan banyak hal. Ungkapan yang klasik tentang itu “one man’s death is tragedy. More than that is statistic”. Jelaskan, bagaimana di mata saya, statistik itu sendirilah yang sejatinya tragedi?

Beberapa hari yang lalu, mantan saya yang kesembilan, kawin. Maksudnya, sampai sekarang sudah ada 9 mantan pacar saya yang kawin. Beberapa mengabari saya, beberapa saya ikut terlibat dalam persiapan dan acaranya, beberapa lagi, tahutahu sudah beranak pinak.

Beberapa hari yang lalu juga, saya mendapat undangan yang penuh dengan angka. Seharian ini, saya mendengar satu orang yang terus menerus menggunakan kata mobilisasi, kapasitas ruangan dan jumlah penonton.

Semua ini bicara tentang manusia. Dan semuanya memiliki efek berbeda bagi saya dalam sisi, keterwakilan. Yang saya rasakan dari cerita perkawinan para mantan; sangat variatif. Kebersamaan saya dengan setiap mereka, semuanya berada dalam kondisi yang tidak biasa. Yang satu tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Pertamatama karena kisahnya, yang berarti hasil interaksi saya dan dia; yang kedua karena setiap orang pada dasarnya berbeda sehingga memberikan saya ketertarikan, sensasi dan pengalaman yang berbedabeda pula.  Peristiwa pernikahan, jika bisa diartikan sebagai perpisahan kekal saya dengan mereka dalam standar yang paling normatif, harusnya memberikan jejak yang dalam. Ada yang bertanya, bagaimana rasanya sih punya 9 mantan yang udah kawin?

Saya tertawa.

Macammacam. Serasa tua. Serasa tetap muda karena mereka berkerut lebih cepat dan seringkali harus mengalah pulang rumah lebih cepat. Serasa serupa emakemak yang terharu melihat anaknya memakai toga sarjana. Serasa istri yang cemburu mendapat bau parfum perempuan melekat di alat kelamin suaminya. Serasa marah. Serasa bahagia. Yang saya tahu, dari pernikahan yang kemarin, saya merasa tumpul. Bukan karena ini pengalaman yang kesembilan, tapi karena kisah saya dan dia sudah terlalu panjang untuk diakhiri dengan cara yang sederhana seperti ini. Kemarahan saya padanya habis, sehingga rasa tumpullah yang hinggap, bahkan ketika dia meminta saya menyanyi di hari pernikahannya.

Apa jadinya kalo mantanmu ada yang menikah lagi?

Ya gak jadi apaapa. Yang jelas, mantan saya masih ada beberapa lagi yang belum menikah, dan pernikahan (atau keselibatan) mereka sama sekali bukan urusan atau bergantung pada saya. Saya yakin, saya akan terus mengalami kisah yang berbeda jika satu per satu orang yang saya kenal dan saya peduli memasuki kehidupan pernikahan.

Tentang undangan yang saya terima, dia benarbenar dewa angka. Sekian komunitas, dengan sekian peserta, sekian anak jalanan dan sekian perempuan dari sekian kota. Apakah saya harus mengagumi reduksionis besarbesaran atas keunikan masingmasing individu dan latar belakang ini dalam bulatan angkaangka? saya menolak mendatangi acara itu. karena saya dan angka, lagilagi tak bisa dikatakan karib.

cerita hari ini juga tidak kalah ngotot berurusan dengan angka. keberhasilan mereka diukur dari seberapa banyak orang yang bisa dimasukkan dalam satu ruangan dengan durasi 90 menit. sudah. tepuk tangan atau tawa, itu hanya bonus.

tapi siapa gerangan dan kenapa mereka masingmasing, bertepuk tangan atau tertawa?

confession is mine.knowledge is everybody : susan sontag “I,Etcetera”


dalam forum yang mempertemukan penonton festival dan pembuat film seksi kompetisi di Manila kemarin, salah satu penulis skenario bicara tentang filmnya, Sanglaan. Sanglaan adalah toko gadai yang menjadi pelengkap pemandangan kota manila selain warung babi guling dan jeepney.

katanya :

for me, this film is merely about how to be a philippino. in the first state, sanglaan is something that really fond for philippines economy. in the other layers, we can see ourself putting everything we have, now and then, at stake. and if we’re willing to walk a bit far, we’ll see us taking chance in redeem or loosing

Paling tidak saya tahu bahwa Manila bukan rumah saya. Tapi perjalanan dan pengalaman selama berada disana, telah melengkapi diri saya, rumah saya sesungguhnya. Walau pulang dengan membawa kembali sepi yang kurang lebih sama, lagilagi, paling tidak, saya tahu penyebabnya tak berasal dari luar sana.

Manila bagi saya adalah gaung kencang dari keberadaanmu. Tapi memang ia hanya menjadi mekah, ia tidaklah pernah

manila [320x200]

benarbenar kamu. Atau sebaliknya, Manila adalah kamu dimanamana. Disetiap wajah yang kuakrabi, obrolan mabuk di jam 3 pagi dan kopi pertama di jam 3 sore, di musik jeepney dan fx tentu saja dengan dashboard serupa miniatur altar, di billboard berbahasa taglish, di setiap cerita yang difilmkan.

Dengan mengunjungi Manila, saya sudah mempertaruhkan kamu. Segala sesuatu yang saya anggap istimewa tentang kamu.

Manila adalah kamu. Tapi kamu tidak pernah selesai dengan satu definisi. Jadilah saya disini, pulang or so I thought, sambil membawa beban pikir yang berlipat ganda, berapa jauh lagi saya harus pergi untuk menghindar dari diri saya yang ini?


Saya pernah percaya, bahwa di dunia ini, bukan hanya ada satu orang untuk satu orang yang lain; melainkan juga, satu karya seni yang diperuntukkan atau berbicara secara khusus dan tepat kepada satu orang saja. Satu untuk satu. Ekslusif ? memang. Sebab sebagaimana mimpi, rasa juga senantiasa sureal. meta bahasa.

Akhirakhir ini saya kembali berhadapan dengan harapanharapan semacam itu. Dan sedihnya, melihat bagaimana harapanharapan itu berguguran satu demi satu. Bagaimana obsesi membuat karya dan mendedikasikan seluruh hidup kepada karya itu, untuk kemudian diserahkan di atas pinggan perak kepada satusatunya alasan karya itu ada di dunia ini; menjadi kesedihan dan lelucon yang tetap sedih hingga mata berair. Bagaimana keinginan untuk mempunyai anak, atau membesarkan anak sesuai dengan impian menjadi sekat yang menyenangkan diantara agenda rapat dan kemarahankemarahan harian.

Yang terlihat jelas dimata saya, adalah bagaimana disaat yang sama, kita merasa sangat mencintai sekaligus menghindari imaji kita akan diri sendiri. Dalam hal membuat karya, jika harus menoleh ke belakang; saya selalu kagum dengan potret saya yang kelebihan energi mengimpikan ini dan menabung itu; menyicil kerjaan ini dan meluangkan waktu untuk itu; mencari dan menguji yang terbaik dari diri saya, untuk dipersembahkan dan memastikan bahwa semua itu termanisfestasikan dengan sempurna dalam karya itu. Sekarang, dalam jangka waktu yang jauh dan memori yang telah kering, saya bisa melihat betapa keras saya berusaha untuk melihat sisi terbaik di dalam diri saya terbingkai disana. Sesuatu yang bisa saya persembahkan kepada satu orang. Hanya satu orang. Benarkah karya itu untuk orang lain?

claustrophobiaDalam topik anak, saya melihatnya seperti sisi keping uang yang berbeda. Mungkin, ini adalah topik paling sedih dalam sejarah manusia. Dimata saya, anak adalah monumen frustrasi yang mewujud dalam daging, pola, citacita bahkan, jiwa. Setengah bercanda setengah serius, saya berkata pada seorang teman: kalau saja masa hamil itu lebih singkat dan tidak mengundang badai hormon, saya mau aja sih jadi pabrik anak! Untuk mereka yang ogah atau sudah gak bisa hamil karena umur atau karir; untuk pasangan homo; untuk penderita kesepian dan kebosanan akut…  Jika saja itu semua bisa membuktikan, bahwa genetika hanya sekian persen jika berhadapan dengan semua bentukan dan hasrat untuk membentuk. Menjadikan sesuatu lebih baik dari pada seharusnya.

Maaf jika ada sarkasme yang keras didalam kalimatkalimat saya.  Buat saya, memang demikian lah kenyataannya. Sarkas, tapi bukan peyoratif. Dan saya sungguh berniat melakukan itu, jika semua syarat tadi terlewati. Pada kenyataannya, saya hidup dan akrab dengan kategorikategori orang seperti yang saya paparkan itu.

Saya pernah percaya, sebagaimana semua anak perempuan yang mengenal kisahkisah dari pabrik disney, bahwa ada satu orang diluar sana yang tersedia khusus untuk saya. Saya tidak tahu, apalagi yang bisa saya percayai sekarang atau besok. Yang saya lihat, sayalah yang tetap setia dan tersedia, untuk diri saya.


Ruang hati saya seumpama ruang menonton di sebuah gedung bioskop. Perkenalan dengan setiap orang adalah seperti memberikan satu karcis dengan nomor tempat duduk yang spesifik di dalam  studio tersebut. Jika ada yang akhirnya pergi dari hidup saya, maka “kursi bernomornya” juga akan tinggal kosong. Demikianlah saya membayangkan. Di akhir film hidup saya kelak, bukan menjadi soal apakah ruangan itu separuh terisi atau separuh kosong. Yang jelas tinggal, adalah setiap kursi bernomor dengakursimu, nomor berapa?bercerita apa?n masingmasing kisahnya.

Ceritacerita yang akhirakhir ini saya dengar datang dari temanteman yang usianya lebih muda dari saya. Ceritacerita yang sedemikian rupa membuat saya menghargai generasi ini. Generasi yang tampak tanpa urgensi, kata salah satu dari mereka;  juga generasi yang terlampau banyak disetir oleh segala hal yang bersifat “baik, harus dan wajib”. Yang  baik adalah ilmu pasti, karena lakilaki harus menjadi pemimpin dan wajib menafkahi keluarganya. Tidak ada yang berbeda dengan apa yang saya dan generasi saya dengar dari generasi di atas kami, tapi penerimaan terhadapnya jelas bertolak belakang.

Generasi saya adalah sekelompok individu yang merasa selalu terdesak untuk berbuat sesuatu. Menjadi sesuatu. Kami tumbuh dalam kutub kutub yang senantiasa bipolar. Saya bercerita kepada mereka, bagaimana kebanyakan teman kampus saya yang lakilaki dulu, memilih masuk fakultas sastra karena tidak ada matematika. Karena merasa tidak bisa dikungkung, tapi juga bukan seniman yang serampangan. Sastra adalah jalan tengah. Kamu bukan seniman yang dituntut punya karya dulu baru bisa menyandang gelar; juga bukan kaum yang harus berseragam dulu baru bisa mendapat tegur sapa. Romantik? Sebaliknya, memuakkan. Kami benarbenar generasi negasi, menidak pada segala formalisme. Marxis baru, Musik parodi, Cultural Studies, Seni Kontemporer, Teater Eksperimental, Pendidikan Populer (slap at my face!) blablabla

Ceritacerita yang saya dengar hari ini adalah cerita tentang bagaimana generasi mereka bermain petak umpet dengan garis waktu linear “baik, harus, dan wajib” dan kesenangankesenangan kecil yang bisa mereka buat diselaselanya. Ada yang menekuni sejarah perang dunia II, belajar bahasa asing sampai mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan film ketika kesempatan jatuh padanya. Halhal yang dulunya sangat sulit saya pahami. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan sesuatu dengan sangat baik dan lumayan mendalam, tapi saling lepas satu dengan yang lain. Logika mengisi waktu tidak pernah ada dalam kepala saya. Buat saya, dan kebanyakan orang di generasi saya, segala hal yang dilakukan adalah pemenuhan diri atas diri. Diri atas pandangan orang lain.

Saya merasa picik dan menyesal atas segala penilaian yang pernah saya jatuhkan kepada mereka. Di mata saya, mereka menjadi ikon generasi sedih yang tidak mau ambil pusing dengan kesedihannya. Saya juga merasa sangat rendah ketika mengingat upaya saya sore itu untuk terdengar tetap bijak di hadapan temanteman saya yang lebih muda.

Malam ini saya berusaha memperbaiki kesalahankesalahan itu dengan mengirim pesan singkat kepada dua teman yang berbagi cerita kepada saya. Pesan pertama adalah:

Tujuan jangka panjang dalam bahasamu tadi, rasanya aku juga masih mencari. Karena aku tak percaya pada pandangan umum tentang yang harus dan yang wajib. Harus mapan, harus kawin, blablabla

Sampai kapan nyari? Gak tau. Seumur hidup pun tak apa. Karena dalam mencari, rasanya tidak akan terlalu kosong kan?

pesan kedua lebih kepada respon atas mekanisme pertahanan diri yang dibangun seorang teman ini terhadap masalahmasalah yang menimpanya. Ia direduksi sedemikian menjadi narasi. Lebih jauh lagi, lelucon. Saya hanya manggutmanggut karena diamdiam saya pun menjalankan mekanisme yang kurang lebih serupa. Walau terasa tidak manjur, tetap saja saya lakukan. Saya juga tidak tahu cara lain, sebenarnya. Tapi malam ini,rasanya  saya  jadi tahu, apa yang membuatnya tidak manjur seratus persen. Maka saya pun mengirim pesan singkat kedua, kepada teman yang ini:

Dans une grande rigolade, il y a agonie qui s’est reste.


june 16th

16Jun09

Seseorang mencolek saya di pinggir panggung rock klasik untuk meminjam korek, dan mengembalikannya dengan senyum dan mulut yang membentuk ucapan “thanx”.

Saya melambai memberi gestur “you’re welcome” dan membantin “manis eh! Kok gak pernah liat ya di jogja?!”

Tak sampai setengah lagu, si peminjam korek mencolek saya :

you speak english?”

fluently

“what do you think of the band?”

“i’m not thinking, i’m watching! The boys are my neighbours! It’s my social obligation”

Kami tertawa dan saya langsung tahu ini akan jadi percakapan panjang. Saat dia tampak bosan dan mimik muka saya sudah tak bisa diatur lagi untuk memberi semangat pada teman-teman saya yang di panggung, saya menawarkannya untuk pergi dari sana.

Kami melanjutkan malam itu di warung kopi saya dengan terus bertukar kisah. Sebanyak yang bisa kami kisahkan dalam semalam. Sebanyak kesamaan yang kami temukan.

sebanyak kisah yang terus menghantui saya bahkan ketika setahun sudah berlalu.